Wacana Keilmuan dan Keislaman
  • Civic Diary: Your IQ Is Not Everything

    Lewat bukunya Outliers, Malcolm Gladwell meneliti rahasia di balik orang-orang sukses. Menurut Gladwell, orang-orang berprestasi luar biasa alias outlier tidak muncul tiba-tiba. Modalnya juga bukan cuma IQ, bakat, ataupun kemampuan pribadi.
    Untuk menjadi outlier, mereka butuh dukungan lingkungan, mampu melihat dan memaksimalkan peluang, dan yang utama adalah kemauan untuk terus menempa diri.

  • Cerita Seorang Ibu yang Mengajari Arti Dari Sebuah Kesabaran Dan Kegigihan

    Di acara Watkins Annual Gathering, ia mempersembahkan penghargaan itu untuk kedua orangtuanya, “Saya senang menjadi penjual. Ayah saya dulunya juga seorang penjual; dan ibu saya mengajari kesabaran dan kegigihan. Dia takkan membiarkan saya menyerah.”

  • Pentingnya Ilmu Pengetahuan dalam Islam

    Manusia lahir ke dunia dilengkapi dengan seperangkat kemampuan internal, yakni rasa ingin tahu (curiousty) tentang sesuatu. Setelah sesuatu itu diperoleh, dengan akalnya manusia dapat memilah-milah sesuatu dengan jenis dari sesuatu itu.
    Dengan akal, manusia dapat melakukan observasi, penyelidikan, penelitian dan eksperimen untuk menemukan kebenaran, yang kemudian kebenaran ini terus dikembangkan menjadi teori.

Friday, February 10, 2017



Mumpung kita masih muda, so don’t waste our time..!! Yaa,..lagu milik Fun ini selalu menjadi semacam dopingku atau juga bisa saja disebut sebagai moodbooster setiap paginya. Sebagai pelecut semangat untuk mengawali hari. By the way,..bener kata mereka, masa muda adalah asset yang sangat mahal harganya.
Kekuatan seorang manusia, khususnya fisik, berada di puncaknya di usia antara 25 sampai 30 tahun, dan setelah itu akan menurun 0,8 sampai 1 persen tiap tahunnya. Perkembangan kognitif, dan kekuatan daya pikir juga menajam di usia itu. Jadi, sayang banget kalau potensi ini tidak kita manage dengan bijak.
Masih inget kan kisah kekejaman Adam Lanza yang menembaki secara brutal anak anak di SD Sandy Hook, Newton, Connecticut, akhir tahun 2012 yang lalu? Waktu itu Adam masih berusia 20 tahun dan merasa tertekan karena perceraian orang tuanya. Ledakan emosinya itu sungguh mencengangkan. Adam yang dikenal sebagai anak cerdas dan pendiam itu ternyata bisa bersikap begitu ekstrim.
Tapi di sisi lain, jika kita mampu memanage potensi masa muda kita dengan baik, bukan hanya ketenangan saja yang kita rasakan, tetapi kita bisa juga meraih hidup yang menakjubkan, the wonderful life..!! Dan banyak kok anak muda di dunia ini yang berhasil melakukannya. Sebut saja Mark Zuckerberg misalnya. Pendiri Facebook ini telah merintis sebuah wonderful life-nya sejak usia belia, dan hasilnya sungguh spektakuler. Di umur yang baru 24 tahun, dia berhasil masuk di jajaran orang terkaya di dunia..!!
Atau yang tak kalah dahsyatnya, kita bisa melihat dari apa yang dilakukan oleh Malala Yousafzai. Di usianya yang masih 17 tahun, remaja Pakistan ini berhasil meraih penghargaan Nobel Perdamaian 2014 karena perjuangannya untuk pendidikan anak anak perempuan di negerinya. Keren kan..?? So, use your youth wisely, and set the world on fire
3:52 PM   Posted by My Science in with No comments
Read More


Huuuhh.. sudah hampir satu jam aku berdiri ngantri di kasir. Kalau bukan karena pesenan mama, gak bakalan deh aku nyempetin belanja di awal bulan kayak gini. Tahu sendiri kan kayak apa mall mall di awal bulan..?? Supeerrr penuuhh..!! Crowded buanget..!! Orang orang kayaknya pada lomba belanja. Borong sana, borong sini..!! Shopping udah jadi semacam life style. Gak peduli tagihan yang entar numpuk di belakang. Jangankan berinvestasi, nabung aja gak kepikiran. Ini sangat bertolak belakang sama gaya hidup orang orang sukses.

Li Ka Shing misalnya. Orang terkaya di Asia versi majalah Forbes ini membagikan kebiasaan hidupnya. Menurut Li, apapun yang terjadi dan tidak peduli berapa pun penghasilan kita, kita harus membaginya menjadi 5 bagian. Dengan begitu kita dapat mengatur pengeluaran dengan baik.
Li Ka Shing memberi contoh sederhana seperti ini. Jika kita memiliki penghasilan Rp.4,000,000, maka hal yang bisa kita lakukan adalah:
  • Yang pertama, sisihkan Rp. 1,2jt (30%) untuk biaya hidup. Ini berarti kita dituntut untuk bisa spend kurang lebih Rp.40rb per hari, untuk transportasi plus makan.
  • Yang kedua, gunakan Rp. 800ribu (20%) untuk sosialisasi. Anggarkan Rp. 200rb untuk pulsa telepon. Traktir teman-teman Anda sebanyak 2x per bulan, masing-masing kurang lebih Rp.300rb. Jika dilakukan setiap bulan selama 1 tahun, network kita pasti nambah. Ingat, bahwa yang kita traktir adalah orang-orang yang lebih dari kita, lebih kaya, lebih pintar, atau mereka yang berperan dalam membantu kita dalam meniti karir.
  • Ketiga, anggarkan Rp. 600rb (15%) untuk belajar. Sisihkan sebagian untuk beli buku dan sisanya untuk mengikuti kursus/workshop. Semakin besar pendapatan kita, pastikan untuk menghadiri kelas-kelas yang lebih advance.Keempat, sisihkan Rp. 400rb (10%) untuk berlibur. Gunakan penginapan sederhana dan bepergian ala backpacker. Selain untuk menyegarkan pikiran, liburan akan membuka mata kita mengenai dunia di luar. Dan yang terakhir, gunakan Rp. 1jt (25%) sisanya untuk berinvestasi. Bisa juga berbisnis hal yang kecil-kecil dulu. Beli barang grosiran dan jual secara ritel. Pengalaman yang didapatkan dari berdagang akan sangat berharga dalam hidup. Dan kalaupun rugi, ruginya masih kecil. Jika berhasil, sisihkan keuntungan untuk investasi jangka panjang agar keuangan kita terjamin di masa depan.

Satu lagi pesan dari Li Ka Shing. Saat Anda miskin, berbaiklah kepada orang lain. Jangan penuh perhitungan, jangan banyak memilih. Jadilah orang yang bermanfaat bagi orang lain. Saat Anda kaya, jaga diri dan jangan mudah dimanfaatkan orang, Anda harus murah hati dan mudah berbagi. Pada titik ini, niscaya kehidupan Anda akan mencapai keseimbangan.

3:35 PM   Posted by My Science in with No comments
Read More

Thursday, February 9, 2017




Hidup memang selalu menyajikan hal hal yang tak terduga. Kemaren, pas ketemuan makan siang dengan klien, aku bertemu dengan Daniel, teman sekelasku saat SMA. Setelah ngobrol sejenak, aku baru tahu, kalo ternyata restoran mewah ini adalah milik Daniel. Bahkan dia masih punya 2 lagi di tempat lain.
Jujur, aku sempat heran, bagaimana bisa si Daniel yang dulu selalu dibully teman teman karena langganan mendapat nilai jeblok di semua mata pelajaran bisa berubah menjadi seorang pengusaha sukses seperti ini..?? Belum sempat aku memikirkan kemungkinan kemungkinannya, dengan antusias Daniel mengajakku menuju ke ruangannya.
Begitu kami duduk, sepertinya Daniel bisa membaca isi pikiranku. Dengan tersenyum dia bilang, ”Kamu pasti herankan aku bisa seperti ini?.” Belum sempat aku menjawab, Daniel langsung berdiri, mengambil sebuah buku yang ada di meja kerjanya. Ia sodorkan buku itu ke arahku sambil berkata, ”Semua berkat buku ini, Adversity Quotient, Paul G Stoltz.”
Hmm..iya sih, buku itu memang keren. Di situ, Paul G Stoltz mengemukakan satu betuk kecerdasan baru, namanya Adversity Quotient atau AQ, kecerdasan untuk mengatasi kesulitan. Dengan adversity quotient yang memadai, seseorang mampu mengubah suatu hambatan menjadi peluang.
Sebagai gambaran, Stoltz memakai terminologi pendaki gunung. Stoltz membagi para pendaki gunung menjadi 3 bagian. Yang pertama adalah Quitters. Para Quitters ini adalah mereka yang sekedar bertahan hidup. Mudah putus asa dan menyerah di tengah jalan.
Sedangkan yang kedua adalah Campers. Campers adalah mereka yang berani mengambil resiko, tetapi resiko yang aman aman saja dan terukur. Cepat puas dan berhenti di tengah jalan. Dan yang ketiga adalah Climbers, yaitu para pendaki yang terus berani menghadapi berbagai resiko. Need of achievement mereka begitu tinggi. Jadi tidak mengherankan kalau merekalah yang selalu berada di puncak.
So, what are you wanna be? Quitters? Campers? or Climbers? Choice is yours..
9:10 PM   Posted by My Science in with No comments
Read More


Pagi ini, aku harus berangkat kerja lebih awal karena mesti nganterin Dipo, ponakanku, ke sekolah. Aku sempat shock saat ngebantuin ngangkat tas sekolahnya. Astagaa.. Ini tas sekolah anak SD apa mobil pick up..?? Beraaattt banget.
Saat kutanya isinya apa aja, si Dipo cuma nyengir. Setelah aku cek, busyeeett, ternyata itu memang buku buku pelajaran dan tugas untuk hari ini. Aku jadi inget curhatan Kak Dini, ibu Dipo. Selain tugas tugas dan jam pelajaran yang padat, materi pelajaran anak SD jaman sekarang juga agak berat.
Iya juga sih, kalau dipikir piker benar juga kata kakakku tadi. Dan kalo boleh beropini, based on pengalaman pas sekolah kemaren, siswa di negeri kita ini sepertinya “diharuskan” menjadi manusia super yang menguasai seluruh ilmu, baik sains, sosial dan juga bahasa.
Sepertinya, paradigma pendidikan di Indonesia hanya berpusat pada bagaimana anak mendapat nilai bagus, bahasa sederhananya sih IQ oriented. Menurutku IQ emang penting, tapi bukan segala galanya.
Kalau soal IQ, aku jadi inget kisah Christopher Langan. Nama Christopher Langan memang gak ada apa-apanya jika dibandingin nama besar Albert Einstein. Tetapi, tidak banyak yang tahu bahwa Chris Langan ternyata mempunyai IQ (intelligence quotient) yang jauh di atas Einstein. Chris Langan memiliki IQ 200, sementara IQ sang fisikiawan jenius penemu Teori Relativitas itu ‘hanya’ 160.
Dengan IQ super yang 40 poin di atas Einstein, boleh jadi banyak dari kita yang berpikir masa depan Chris Langan pastilah cemerlang. Mungkin ia bakal jadi ilmuan sukses seperti Einstein. Atau pemimpin Negara layaknya B.J. Habibie, mantan Presiden Indonesia, yang juga ber-IQ 200. Atau, paling tidak, memimpin lembaga keuangan ternama seperti Sri Mulyani, Managing Director Wold Bank dan mantan Menteri Keuangan Indonesia, yang ber-IQ 157.
Sayangnya, tidak. Kisah hidup Chris Langan jauh dari cerita sukses. Pendidikannya gagal, ia di-droup out pada tahun pertama kuliahnya. Dan, sampai usia setengah 50 tahun, ia masih bekerja serabutan, terkadang jadi kuli bangunan, bahkan sempat menjadi tukang pukul di sebuah bar.
Pertanyaannya, mengapa para jenius seperti Einstein, Habibie, atau Sri Mulyani bisa meraih kesuksesan, sementara Chris Langan tidak?
Lewat bukunya Outliers, Malcolm Gladwell meneliti rahasia di balik orang-orang sukses. Menurut Gladwell, orang-orang berprestasi luar biasa alias outlier tidak muncul tiba-tiba. Modalnya juga bukan cuma IQ, bakat, ataupun kemampuan pribadi. Untuk menjadi outlier, mereka butuh dukungan lingkungan, mampu melihat dan memaksimalkan peluang, dan yang utama adalah kemauan untuk terus menempa diri.

2:05 PM   Posted by My Science in with No comments
Read More
Ilustration
Ilustration


Seringkali kita tidak menyadari, bahwa kebiasaan menjadi faktor penting sukses atau tidaknya seseorang. Kebiasaan lahir dari pola pikir, yang kemudian tertuang dalam perilaku. Dalam lingkup yang lebih luas, kebiasaan bisa membentuk budaya sebuah masyarakat.
Dalam bukunya Culture Matters, Samuel Huntington menyebut bahwa secara umum, budaya bisa didefinisikan sebagai suatu sistem pengetahuan, gagasan, atau ide, yang dimiliki oleh suatu kelompok manusia, yang berfungsi sebagai pengarah bagi mereka yang menjadi warga kelompok itu dalam bersikap dan bertingkah laku.
Dalam konteks Negara, budaya merupakan sebuah penentu penting bagi kemampuan suatu Negara untuk makmur, karena budaya adalah pembentuk pola pikir warganya.
Pola perilaku manusia dalam masyarakat sangat ditentukan oleh kebudayaannya. Samuel Huntington menggambarkan bagaimana nilai – nilai budaya mempengaruhi kemajuan maupun kemunduran manusia.
Contoh yang paling populer adalah perbandingan antara Korea Selatan dan Ghana. Jadi, ceritanya gini, di tahun 1960-an Ghana dan Korea Selatan memiliki kondisi ekonomi yang kurang lebih sama. Tiga puluh tahun kemudian, Korea telah menjadi Negara maju, tetapi Ghana hampir tidak mengalami kemajuan apapun.
Saat ini GNP perkapita Ghana hanya seperlimabelas dari GNP Korea Selatan. Ini disebabkan karena bangsa Korea Selatan memiliki nilai – nilai budaya tertentu seperti hemat, kerja keras, ataupun disiplin, yang tidak dimiliki oleh masyarakat Ghana.
So, kesimpulannya, kalau misalnya Negara kita sampai sekarang belum jadi Negara yang maju, bisa jadi itu juga akibat kebiasan kebiasan jelek yang masih kita teruskan sampai sekarang.


1:45 PM   Posted by My Science in with No comments
Read More



Hampir selama hidupnya, hidup Pam Lontos dikendalikan oleh kata-kata negatif dari orang lain. Ketika masih dalam usia pertumbuhan orangtuanya sering melarangnya melakukan hal-hal yang beresiko. Seperti misalnya: “Jangan ke pantai, nanti bisa tenggelam” atau “Jangan berbelanja ke pusat kota, terlalu berbahaya.” Bahkan, ketika sudah menikahpun, suaminya menyuruh dia untuk berhenti belajar psikologi dan beralih belajar menjadi guru. Padahal, sebenarnya dia lebih menyukai bidang psikologi. Akhirnya, dia pindah kuliah juga ke bidang pengajaran. Meskipun setelah 3 tahun kemudian, Pam memilih keluar dari situ dan memutuskan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Harapannya, hal itu akan membuat hidupannya lebih bermakna.
Alhasil, Pam Lontos menghabiskan hari-harinya di sebuah rumah yang nyaman dengan dua anaknya dan seorang suami yang karirnya sukses. Akan tetapi anehnya, hal itu tidak membuatnya bahagia. Dia justru merasa dirinya kosong secara emosional, tidak berguna dan tidak memberikan kontribusi apapun. Semakin lama perasaan itu semakin menjadi-jadi dan dia semakin merasa tertekan dan depresi.
Banyak cara yang dipilih orang untuk menghadapi depresinya, dari mulai mengkonsumsi obat-obatan sampai lari ke minuman keras. Sedangkan Pam Lontos memilih untuk banyak-banyak tidur. Dia hanya bangun ketika mengantar anak-anak ke sekolah, lalu kembali ke rumah untuk tidur dengan pulas. Dengan demikian dia setidaknya bisa melupakan segala masalahnya. Pada waktu Pam berusia 34 tahun, dia tidur selama 18 jam perhari dan berat badannya naik menjadi sekitar 181 kg. Saat itu, depresinya sudah sedemikian parah. Harga diri, kepercayaan diri, dan alasannya untuk hidup, telah sirna. Setiap kali dia berada dalam kondisi terjada tidak tidur, dia selalu mempertimbangkan untuk bunuh diri.
Hingga suatu hari, sebuah kesadaran muncul. Jika seseorang berada dalam posisi ‘hidup segan, matipun tak mau.’ maka, satu-satunya pilihan yang tersisa adalah: berubah! Maka, langkah pertama yang diambil Pam Lontos adalah bergabung dengan sebuah klub kesehatan agar berat badannya tidak terus naik. Memang, keputusan yang diambil Pam itu tampak seolah sebuah langkah kecil, tapi begitu dia berjalan melewati pintu klub kesehatan, itu artinya dia tengah memasuki suatu kehidupan yang baru. Dimana pada saat itulah, dia bertemu dengan Jim, pemilik klub. Jim ini orang yang energik dan selalu bersikap positif. Tak heran, ketika Pam sempat menunjukkan keragu-raguannya, tanpa segan Jim membagi filosofi positifnya. Dia bilang ke Pam Lontos, “Jangan berkata bahwa anda tidak bisa melakukan sesuatu, sebelum anda benar-benar mencobanya!” Nah, kata-kata itulah yang kemudian menjadi pegangan Pam dalam menjalani hidup.
Ketika berat badan Pam berangsur-angsur mulai turun, bersamaan dengan itu juga rasa takut dan keragu-raguannya juga mulai hilang. Setelah beberapa bulan, dia menjadi cukup berani untuk bertanya pada dirinya sendiri, “Apa yang ingin saya lakukan?” Sebuah pertanyaan yang selama ini tidak berani dia tanyakan pada dirinya sendiri. Ketika pertanyaan itu muncul, ingatan masa remajanya kembali muncul. Saat remaja dulu, dia pernah menjual sepatu untuk membantu keluarganya. Kenapa tidak dicoba sekarang? Begitu pikirnya. Dengan menggeluti bidang penjualan, barangkali dia bisa menyumbangkan sesuatu. Dan karena dia mengalami kemajuan pesat bersama klub kesehatan milik Jim, maka Pam Lontos berpikir untuk memulainya dari sana.
Mulailah dia menemui Jim. Dia sadar, kalau tidak punya pengalaman dalam menjual kartu keanggotaan klub. Tapi dia cukup percaya diri untuk meminta pekerjaan itu dari Jim. Jim yang selalu bersikap positif itu, akhirnya memberikan pekerjaan. Dan dalam waktu yang sangat singkat, Pam berhasil mewujudkan keingannya. Semenjak itulah kepercayaan dirinya menjadi meningkat pesat.
Singkat cerita, setelah memasarkan kartu keanggotaan klub kesehatan, Pam kemudian beralih pekerjaan ke salah satu stasiun radio yang saat itu sedang membutuhkan tenaga pemasaran. Di perusahaan itu karirnyapun melesat dengan cepat. Setelah AE, dia naik posisi sebagai manajer penjualan. 2 tahun kemudian, dia dipromosikan menjadi wakil presiden penjualan. Ini luar biasa! Karena berarti dia melompati 2 level posisi sekaligus. Seharusnya, manajer penjualan dia ada di posisi general manager. 

4 tahun yang penuh keberhasilan di stasiun radio itu, tidak membuat Pam menetap. Dia memilih resign untuk memulai sesuatu yang baru lagi. Apa kira-kira bidang baru yang dipilih Pam? Pada akhirnya, kita mengenal Pam Lontoh sebagai pembicara motivasional, penulis dan konsultan penjualan dan pemasaran yang menginspirasi banyak orang. Kalau ada orang yang menyangsikan bahwa kita bisa mewujudkan impian kita, maka Pam Lontoh akan selalu menyarankan, “Anda tatap mata mereka dan katakan ke mereka: ‘Jangan katakan kepada saya bahwa ini mustahil diwujudkan, sebelum saya melakukannya.”
12:56 PM   Posted by My Science in with No comments
Read More

Wednesday, February 8, 2017



Eula Hall, seorang perempuan desa yang lahir pada tahun 1927 di Pike Country, Kentucky. Sebuah wilayah, dimana anak-anak meninggal karena kekurangan gizi dan orang-orang dewasa meninggal karena sakit yang tidak segera mendapat penanganan. Kematian-kematian ini terjadi karena penduduk di wilayah itu tidak punya tenaga medis (dokter) dan rumah sakit satupun. Bahkan, mereka tidak mempunyai dana medis sepeserpun. Eula sendiri telah melahirkan 5 anak, namun sedikitpun ia tak pernah mendapatkan perawatan pasca melahirkan dan semua bayinya dilahirkan di rumah.
Pada usia 18 tahun, Eula Hall bertekad keras untuk mendirikan klinik medis di desanya. Sedangkan, ia tak punya lisensi medis, tak pernah ikut pelatihan formal dalam politik atau hukum, tak pernah ikut kelas ilmu pengetahuan dan bahkan tidak menyelesaikan pendidikannya di kelas 8. Akan tetapi, gadis desa yang kotor dan miskin ini punya pekerjaan yang sangat dicintainya, yaitu meringankan penderitaan sesama di desanya, di pegunungan Appalachia, Kentucky.
Pekerjaannya itu, memberinya penghasilan sebesar $50 per-minggu. Sehingga untuk mendirikan klinik medis, Eula Hall menyisihkan penghasilannya sedikit demi sedikit untuk ditabung. Dan setelah berlangsung selama 7 tahun, akhirnya ia berhasil menyewa sebuah pondok kecil seharga $40 di sebuah jalan yang terpencil. Ia juga berusaha keras untuk mengumpulkan sumbangan dari berbagai pihak.
Apa yang dilakukannya itu, masih lebih mudah jika dibandingkan saat ia harus merekrut dokter yang bersedia bekerja di kliniknya. Bagi para dokter muda, pegunungan Appalachia bukanlah lokasi impian untuk meniti karir dan memperoleh penghasilan besar. Akhirnya, Eula merekrut staf medis dari sekumpulan dokter asing yang ingin mendapatkan green card. Tapi rupanya, para dokter yang semula tertarikpun, akhirnya banyak mundur karena mendapati kenyataan tak ada perumahan yang layak untuk mereka.
Meskipun melewati perjuangan yang berat, akhirnya klinik medis Eula Hall resmi dibuka. Dari hari pertama buka, mereka sudah kewalahan melayani pasien-pasien yang miskin. Mereka menderita sakit dari mulai jari yang hancur sampai paru-paru yang bocor. Banyak diantara mereka yang sebelumnya belum pernah bertemu dokter. Dan kebanyakan dari mereka, tidak mampu membayar biaya medis sebesar $5.
Klinik medis itu terus melayani pasien-pasien yang miskin, sampai suatu malam klinik itu mengalami kebakaran. Impian, pengorbanan dan hasil kerja keras Eula Hall selama ini, hancur dalam hitungan menit. Ia berdiri di depan reruntuhan yang masih menyala, sambil memikirkan nasib 15.000 warga yang menjadi tanggung-jawabnya. Ia terpuruk memikirkan persediaan obat dan peralatan medis yang menjadi abu. Untuk pertama kalinya, dalam sejarah hidupnya, ia menangis. Dengan terseok-seok ia mengumpulkan keberaniannya dan dengan suara serak dia berkata, “Bangunan ini memang sudah hancur, namun kita masih ada di sini!”
Malam itu, Eula Hall bertekad untuk tetap bekerja dan mencari cara untuk membangun kembali kliniknya. Keesokan harinya, klinik itu tetap menerima pasien di ruangan terbuka dengan sebuah telpon yang tergantung di pohon. Para pasien antri berbaris dan para staf mengobati pasien. Bersamaan dengan itu, Eula juga mengumpulkan dana dengan berbagai cara: pengumuman di radio, malam amal, bahkan juga berdiri di pinggir jalan sambil menenteng keranjang sumbangan. Dalam 3 bulan, ia berhasil mengumpulkan dana sebesar $102.000. Jumlah yang cukup untuk dipakai sebagai jaminan mendapatkan ijin federal dalam membangun sebuah klinik baru.
Meskipun ijin sudah di tangan, akan tetapi bangunan klinik belum berdiri. Jadi ia klinik itu masih berpindah-pindah. Ketika sebuah sekolah lokal tutup untuk musim panas, Eula memindahkan kliniknya ke sana. Pada musim gugur, ia memindahkan kliniknya ke sebuah trailer. Berat, tapi selangkah demi selangkah, satu dolar demi satu dollar, akhirnya sebuah klinik baru pun berdiri: Mud Creek Clinic. Sebuah klinik dengan peralatan modern dan parkiran aspal yang luas.
Mud Creek Clinic, merupakan satu-satunya klinik modern yang memungut bayaran semampu pasiennya. Orang-orang melakukan perjalanan melintasi pegunungan untuk menyuntikkan anak mereka, memeriksa tekanan darah mereka, atau mendapat resep untuk jantung mereka. Jika klinik itu tidak bisa membantu mereka, maka Eula akan mencari orang yang bisa membantu. Ia pernah berhasil membujuk Lions Club untuk membiayai operasi para pasien kanker yang miskin. Ia juga pernah berurusan dengan pengadilan demi membantu klaim cacat bagi orang-orang miskin. Ia juga mengumpulkan uang untuk membeli sebuah ambulans yang digunakan untuk mengirim makanan ke orang-orang yang tidak bisa keluar rumah karena sakit. Bahkan kalau diperlukan, ia menyetir sendiri ambulans itu untuk membawa pasien-pasien yang dalam keadaan kritis ke sebuah RS terdekat. Pernah suatu kali mobilnya terguling sampai bahunya patah, tapi keesokan harinya, dia tetap bekerja seperti biasa. Yang keren, meskipun Eula menderita arthritis dan sakit jantung, sekalipun ia tak pernah mau dirawat. Ia berkilah, “Bekerja keras, tidak akan membunuh manusia.”
Keberadaan Mud Creek Clinic dengan 17 staf, termasuk 2 dokter dan 7 ruang periksa yang diperlengkapi dengan peralatan yang baik membuat Eula Hall hidup dengan gaji sebesar $22.000 pertahun. Dia berada di klinik tersebut setiap hari dan belum pernah mengambil liburan selama 4 tahun. Seringkali klinik itu buka hinggai jauh malam. Ia menunggu pasien terakhir diperiksa dan diobati, sebelum akhirnya menutup kliniknya. Baru setelah yakin kalau pasien-pasiennya aman dan diperhatikan, Eula Hall pulang ke rumah untuk beristirahat.
  • Diambil dari buku “Unstoppable” karya Cynthia Kersey.
  • Ditulis kembali oleh Astin Soekanto
4:06 PM   Posted by My Science in with No comments
Read More
ibu
Ilustration


Sejak lahir, Bill Potter menderita kelumpuhan otak sehingga divonis seumur hidupnya ia tidak akan mampu bekerja. Pada saat sang ibu melahirkannya, dokter melakukan kesalahan dalam menggunakan alat vacuum, sehingga merusak sebagian syaraf otak sang bayi. Akibatnya kelak, cara berjalan anak tersebut menjadi terseok-seok (pincang) dengan tangan kanan terkulai tanpa daya. Begitu pula dengan bicaranya yang gagap dan tidak jelas.
Dengan keadaan fisik seperti itu, ada banyak hal yang Bill Potter tidak bisa melakukannya sendiri dan butuh bantuan ibunya. Misalnya, untuk memakai dasi, ibunyalah yang selalu membantu memakaikannya. Ibunyalah yang memasangkan kancing bajunya. Dan ibunya jugalah yang menyisiri rambutnya. Tak heran, hubungan sang ibu dengan anaknya begitu dekat dan sangat baik. Saat Mrs. Porter, ibunya, mendadani dan menyisir rambut Potter itulah, ia selalu berkata kepada anaknya: “Pasti orang-orang butuh waktu untuk mengenalmu.”

Singkat cerita, setelah Bill Potter banyak mengalami penolakan yang nyaris mematahkan harapannya, akhirnya ia berhasi menjadi seorang salesman di Portland yang menjual berbagai jenis sabun secara door-to-door. Meski sejak saat itu, setiap hari dia harus berjalan kaki tertatih-tatih menempuh jarak 20 kilometer perhari,tanpa pernah sedikitpun mengeluh. Dan karena bagian tubuhnya yang sebelah kiri tidak berfungsi sebagaimana orang normal, sebenarnya Bill Potter sangat sulit berjalan tegak dan berbicara dengan jelas.
Di hari pertama Bill Potter bekerja, Mrs. Porter menuliskan dua kata mujarab pada roti makan siang anaknya: ”patient and persistence.” (Sabar dan gigih)! Di hari pertama ia menjalankan tugas, sang mama mengantarnya dengan mobil sampai di sudut jalan. Rumah pertama yang akan dimasukinya, langsung ditinggalkan Bill Potter karena seekor anjing besar menunggunya di sana. Lalu rumah kedua, dibuka oleh pria setengah mabuk. Pria itu membanting pintu, begitu Potter mulai memperkenalkan dirinya. Dari dalam rumah terdengar seorang wanita bertanya “Siapa itu?” Lalu seorang pria yang dari dalam rumah tersebut menjawab: “Seperti pengemis.” Di rumah ketiga, Bill Potter belum sempat bicara. Begitu sampai pintu, si penghuni rumah tengah memulai pertengkaran dengan tetangganya akibat atap rumah yang rusak terkena pohon yang ambruk.
Tanpa mengenal putus asa, Bill Potter terus berjalan terhuyung-huyung memasuki rumah yang lain. Kali ini ia disambut oleh seorang wanita yang sedang meneriaki kedua anaknya. Salah satu anak itu langsung kabu, begitu melihat penampilan Bill Potter. Di rumah berikutnya ia masuk dan menjelaskan produk Watkins yang dijualnya. Sebenarnya, nyonya rumah menolak membeli namun dia mengatakan, “Saya menghargai usahamu.” Lalu dengan serta-merta ia menyodorkan sejumlah uang. Melihat sikap itu, seketika Bill Potter bangkit dari duduknya dan berkata, “Saya tidak membutuhkan belas kasihan. Tetapi Anda perlu pembersih untuk sofa Anda yang jorok!”
Akhirnya, si Nyonya yang bernama Ny. Sullivan itulah yang menjadi pembeli pertamanya. Dia membayar hampir 50 dolar untuk dua pemutih dan sabun. Bill Potter senang sekali. “Hari ini aku dapat komisi $ 4,25”, katanya sambil bersorak ketika ibunya menjemputnya sore itu. Sesampai di rumah, Ny. Potter bilang pada Bill, “Kamu memang seorang penjual. Ayahmu juga penjual yang berhasil. Dia berprofesi penjual selama 38 tahun, makanya Mama yakin kamu akan berhasil.”
Hari demi hari Bill terus konsisten menjalankan profesinya. Bahkan ketika syaraf tulang punggungnya bermasalah akibat terus menerus menjinjing tas berat, ia terus berjualan. Memang dokter menyuruhnya berhenti, tapi Bill menolak untuk menyerah.

Pada tahun 1989, Bill Potter berhasil meraih penghargaan sebagai penjual terbanyak dari perusahaan Watkins. Ia berhasil menjual produk Watkins sebanyak US $ 42.460 dalam setahun. Prestasinya ini, melampaui orang-orang muda yang yang berpenampilan normal. Di acara Watkins Annual Gathering, ia mempersembahkan penghargaan itu untuk kedua orangtuanya, “Saya senang menjadi penjual. Ayah saya dulunya juga seorang penjual; dan ibu saya mengajari kesabaran dan kegigihan. Dia takkan membiarkan saya menyerah.”
  • Diambil dari buku “Unstoppable” karya Cynthia Kersey.
  • Ditulis kembali oleh Astin Soekanto
2:23 PM   Posted by My Science in with No comments
Read More

Sunday, November 1, 2015


Di dalam kamus purwodarminto diterangkan bahwa menuntut ilmu berarti belajar, sedangkan pengertian belajar menurut para ahli pendidikan dapat disimpulkan sebagai “Suatu proses yang menimbulkan kelakuan baru atau mengubah kelakuan yang lam sehingga orang lebih mampu menghadapi berbagai situasi di dalam hidupnya.”
Ilmu secara garis besar dibagi menjadi dua, diantaranya yaitu:

  • Ilmu Allah yang mencakup segala sesuatu yang dapat disaksikan oleh indra manusia maupun yang ghaib (yang dapat diketahui melalui wahyu.
  • ilmu manusia yang mencakup segala pengetahuan yang dapat dijangkau oleh manusia melalui indra dan intuisi.
Kedudukan ilmu dalam pandangan ajaran Islam 
- Islam menjunjung tinggi dan ilmu pengetahuan al-Mujadalah ayat 11 dan artinya:


"Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majilis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meniggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan."

- Islam mewajibkan umatnya untuk senantiasa menuntut ilmu

"Rasulullah bersabda, mencari ilmu itu wajib hukumnya bagi setiap orang islam (HR.Bukhori)

- Islam menyuruh umatnya untuk mengajarkan ilmunya kepada orang lain.

"Rasulullah bersabda, sampaikanlah apa yang datang dariKu kepada orang lain meski hanya satu ayat." (HR. Bukhari)

- Islam mendorong umatnya untuk senantiasa menggali dan mengembangkan ilmu pengetahuan

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal." (Q.S. Ali Imran:190)

- Islam mewajibkan umatnya menuntut ilmu untuk memperkokoh imannya

"Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al-Qur'an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya, dan sesungguhnya Allah adalah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. 

- Islam mewajibkan umatnya menuntut ilmu agar dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."


Dasar Kewajiban Menuntut Ilmu

Muhammad ibn Syaikh Al-Usaimin telah mengemukakan beberapa keutamaan ilmu sebagai berikut:
  • Ilmu dapat mengatarkan pemiliknya menjadi saksi atas kebenaran dan keesaan Allah.
  • Ilmu adalah cahaya yang menerangi kehidupan hamba sehingga dia tahu bagaimana beribadah kepada Allah dan berhubungan dengan sesama.
  • Ilmu merupakan pertanda kebaikan seseorang untuk mencapai kebahagiaan didunia dan akhirat.
Islam melalui Al-Qur'an  dan al-hadits telah mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu, diantaranya adalah: 
  • Qur'an Surat Al-Mujadilah/ 58:11
  • Qur'an Surat al-Taubah/ 9: 122

 
4:03 PM   Posted by My Science in with No comments
Read More

Search