Wacana Keilmuan dan Keislaman
  • Civic Diary: Your IQ Is Not Everything

    Lewat bukunya Outliers, Malcolm Gladwell meneliti rahasia di balik orang-orang sukses. Menurut Gladwell, orang-orang berprestasi luar biasa alias outlier tidak muncul tiba-tiba. Modalnya juga bukan cuma IQ, bakat, ataupun kemampuan pribadi.
    Untuk menjadi outlier, mereka butuh dukungan lingkungan, mampu melihat dan memaksimalkan peluang, dan yang utama adalah kemauan untuk terus menempa diri.

  • Cerita Seorang Ibu yang Mengajari Arti Dari Sebuah Kesabaran Dan Kegigihan

    Di acara Watkins Annual Gathering, ia mempersembahkan penghargaan itu untuk kedua orangtuanya, “Saya senang menjadi penjual. Ayah saya dulunya juga seorang penjual; dan ibu saya mengajari kesabaran dan kegigihan. Dia takkan membiarkan saya menyerah.”

  • Pentingnya Ilmu Pengetahuan dalam Islam

    Manusia lahir ke dunia dilengkapi dengan seperangkat kemampuan internal, yakni rasa ingin tahu (curiousty) tentang sesuatu. Setelah sesuatu itu diperoleh, dengan akalnya manusia dapat memilah-milah sesuatu dengan jenis dari sesuatu itu.
    Dengan akal, manusia dapat melakukan observasi, penyelidikan, penelitian dan eksperimen untuk menemukan kebenaran, yang kemudian kebenaran ini terus dikembangkan menjadi teori.

Showing posts with label Civic Diary. Show all posts
Showing posts with label Civic Diary. Show all posts

Sunday, February 12, 2017



Hadeeehhh..!! Lama lama emosi juga ngeliat perilaku para anggota dewan kita. Bukannya focus kerja buat rakyat, eh malah pada berantem di sidang, sibuk membela kepentingan golongan dan partainya. Entah gak sadar atau pura pura lupa, kalau mereka itu bisa duduk di parlemen, menikmati gaji tinggi plus fasilitas mewah itu karena dipilih rakyat. Sudah semestinya mereka kerja buat kepentingan rakyat dong..!!
Tapi, yaa gak semua anggota dewan kita keblinger kayak gitu siiihh. Masih ada kok yang bisa memegang amanah. Masih ada yang benar benar menjadi penyambung lidah rakyat. Bahkan, beberapa dari mereka mampu bertransformasi menjadi manusia rahmat. Kehadiran mereka selalu membawa kebaikan bagi orang orang di sekitarnya.
Emang gak gampang jadi manusia rahmat. Butuh pemahaman spiritualitas yang super tinggi..hehehe. Mereka, para manusia rahmat ini biasanya memiliki pemahaman tentang hidup yang tanpa batas.
Salah satu contohnya adalah Konnosuke Matsushita, pendiri sekaligus pemimpin Matsushita Electric Industrial,sebuah perusahaan elektronik yang sempat mengalami puncak kejayaannya sebagai bisnis paling sukses dengan penjualan 49, 5 miliar dolar di tahun 1994.
Dulu, saat masa resesi dunia di tahun 1929, pertumbuhan ekonomi Jepang anjlok, GNP dan daya beli masyarakat turun drastis. Dunia bisnis panik. Di Amerika saja, General Motors yang saat itu memiliki hampir 93 ribu pekerja, terpaksa mem-PHK separonya. Tapi tidak Matsushita. Ia mampu melakukan terobosan yang sangat manusiawi di masa depresi itu.
Di depan ribuan karyawannya, dengan berani dia bilang gini,”Kita pangkas separuh biaya produksi, tapi jangan ada satupun pegawai yang dipecat..!!”. Matsushita kemudian membekali para karyawan produksinya dengan skill menjual. Jadilah mereka laskar penjual Matsushita Electric Industrial door to door. Cara ini pun terbukti ampuh. Matsushita Electric Industrial bukan hanya mampu survive di tengah masa depresi, tapi mereka menjelma menjadi salah satu raksasa bisnis yang paling bersinar di Asia waktu itu.
Ya, Konnosuke Matsushita berhasil membangun dirinya melewati ambang batas pengusaha yang umumnya lapar uang menjadi pribadi yang humanis dan sangat peduli pada persoalan kemanusiaan. Bagi Matsushita uang bukan tujuan. Meskipun ia butuh uang, tapi uang bukan segalanya. Baginya uang hanyalah sekedar alat untuk melakukan kebaikan. (Yolly/CRadio)
12:18 PM   Posted by My Science in with No comments
Read More

Saturday, February 11, 2017



Setiap berangkat kerja, aku selalu berpapasan dengannya. Namanya Pak Sambudi. Aku kenal beliau sejak aku masih duduk di bangku SMP. Usianya sekarang mungkin 70 tahun lebih. Meski begitu, ia masih terlihat segar. Senyum ramah selalu tersungging di wajahnya. Lebih dari separuh hidupnya, ia habiskan sebagai pegawai di kantor kecamatan.
Masih teringat jelas di benakku, bagaimana antusiasme Pak Sambudi saat masih aktif bekerja sebagai staff administrasi kecamatan. Dengan kehangatan khas yang dimilikinya, Pak Sam selalu sabar dan tulus melayani satu persatu masyarakat yang membutuhkan pelayanan.
Sekarang, saat ia sudah pensiun, orang orang masih menyayanginya. Bahkan banyak yang memang sengaja meluangkan waktu untuk datang berkunjung ke rumah Pak Sam, sekedar untuk ngobrol menyambung tali silaturahmi ataupun sekedar memberikan oleh oleh. Mungkin orang orang itu masih terkesan dengan sikap dan pelayanan yang pernah diberikan Pak Sam.
Benar kata orang bijak, “Apa yang datang dari hati, akan selalu mendapat tempat di hati”. Dan menurutku, Pak Sam adalah salah satu contohnya. Ia adalah orang yang memahami dengan benar esensi pekerjaannya. Ia menjadi insan yang mulia karena apa yang dikerjakannya.
Bunda Teresa juga pernah bilang, “apapun pekerjaan atau jabatan kita, jika diusut ke akarnya, sesungguhnya adalah sebuah eksistensi bagi kita untuk melayani”.
Sebuah teladan tentang pelayanan lewat pekerjaan, juga ditunjukkan oleh Abraham Lincoln. Pada masa kepresidenannya, perang saudara antara Utara dan Selatan tengah berkecamuk. Sebagai bentuk rasa hormatnya kepada para prajurit, Lincoln sering berkunjung ke rumah sakit.
Pada suatu kunjungan, dilihatnya seorang prajurit hampir mati. Lincoln mendekati prajurit itu dan berkata, “Adakah sesuatu yang dapat kulakukan untuk meringankan penderitaanmu, Nak?” Karena lukanya yang parah, prajurit itu tak mampu mengenali siapa pria baik hati itu.
“Sudikah Bapak menuliskan sebuah surat untuk ibuku?” tanya si prajurit kepada pria yang mendekatinya. Pria itu pun segera mengambil kertas dan pena untuk menuliskan surat bagi si prajurit.
Terbata-bata si prajurit mendiktekan suratnya, “Ibu tersayang, anakmu terluka parah dalam perang. Mungkin Aku tidak akan pernah sembuh. Jika aku pergi, janganlah terlalu merasa kehilangan. Peluk ciumku untuk Mary dan si kecil, John.”
Si prajurit terkulai dan tidak sanggup meneruskan suratnya. Maka pria yang menuliskan surat untuknya itu segera menandatangani surat pendek itu dan menambahkan tulisan di surat itu, “Ditulis oleh Abraham Lincoln untuk anak Anda,” kemudian untuk terakhir kalinya, ia menunjukkan surat itu kepada si prajurit untuk dibacanya.
Si prajurit terkejut menyadari bahwa pria baik hati itu tidak lain adalah Presiden Abraham Lincoln. Lantas sekali lagi ia bertanya, “Tuan Presiden, sudikah Tuan menggenggam tanganku?” Dan, Presiden Lincoln pun menggenggam tangan prajurit muda itu sampai ia menutup mata untuk selamanya.
Lincoln tidak sempat menanyakan nama si prajurit. Secara pribadi ia tidak mengenal pria muda itu, tapi ia menaruh peduli pada penderitaannya. Genggaman tangan Lincoln adalah kepedulian yang tak ternilai bagi si prajurit, yang menemaninya melewati derita dan ketakutan dalam menghadapi kematian.
3:52 PM   Posted by My Science in with No comments
Read More

Friday, February 10, 2017



Manusia itu memang benar-benar unik ya.. Gimana enggak? Kita semua masing-masing dianugerahi “kemampuan pada tingkat yang tak tertandingi,” sedikitnya dalam satu bidang kehidupan!
Itulah mengapa setiap manusia selalu membutuhkan manusia lain. Karena apapun kehebatan dan kelebihan yang kita miliki, selalu hanya berada pada bidang-bidang tertentu saja, sehingga kita selalu memerlukan orang lain untuk menutup kekurangan yang kita miliki. Inilah yang kemudian menjadi dasar ”pertukaran nilai”.
Seseorang yang punya kelebihan tertentu, akan ”memproduksi” sesuatu yang dibutuhkan orang lain. Lalu sebaliknya, orang yang membutuhkan tadi, juga memiliki satu kelebihan lain, yang juga dibutuhkan orang yang lain lagi! Sebuah supply dan demand yang begitu indah. Itulah kenapa, setiap ketrampilan khusus kita, pasti ada yang membutuhkannya!
Pepatah bule mengatakan: 
“There are all kinds of writers, there are all kinds of readers.” Setiap jenis penulis, pasti ada pembacanya.
Satu hal, secara fisiologis, yang membuat manusia menjadi lebih unggul dari makhluk lainnya adalah adanya karunia otak atau pikiran. Dalam kajian Neuro Linguistic Programming (NLP), sistem kerja otak diantaranya menggunakan pola afirmatif. Yaitu penggunaan pola informatif berulang-ulang sehingga pada akhirnya akan lahir new believe.
Apapun yang diyakini oleh otak, maka sinyalnya akan ditransfer ke seluruh organ tubuh melalui sistem syaraf. Dan sinyal yang dikirim oleh otak akan diterima sepenuhnya dengan serta merta tanpa ada resistensi sedikitpun.
So, mulai sekarang, prioritaskan otak kita hanya menerima hal hal yang positif, keberhasilan, ataupun kuasa tanpa batas. Sehingga fisik kita akan terbangun menjadi fisik dengan kualifikasi positif, keberhasilan, unlimited power dan serba berkelimpahan. Remember, you’re all special.
4:37 PM   Posted by My Science in with No comments
Read More


Gak tau kenapa, malam ini aku tiba tiba kangen papa. Padahal kalau dipikir pikir, kami sudah terbiasa ditinggal papa berhari hari untuk perjalanan bisnisnya. Ya, sekitar 4 tahun yang lalu, papa resign dari kantornya dan memutuskan untuk merintis usaha sendiri.
Menurut papa, gaji bulanan papa sudah tidak cukup lagi untuk mengcover kebutuhan kami. “Kita butuh revolusi..!! begitu kata papa. Dan alhamdulilah, keputusan papa memang tepat. Pelan tapi pasti, kondisi keuangan kami semakin membaik. Uang sudah bukan masalah lagi bagi kami. Meski begitu, papa selalu wanti wanti agar kami selalu bijak dengan uang. Yang selalu aku ingat, Papa pernah bilang gini,” Menjadi kaya itu bukan hanya sekedar seberapa banyak uang yang kita miliki, tetapi apa yang tersisa ketika seluruh uang kita hilang.”
Bener juga kata papa tadi. Buktinya, ada saja orang-orang yang tidak peduli seberapa banyak mereka kehilangan uang atau seberapa bangkrut usahanya, eh ujung-ujungnya mereka bisa bangkit lagi. Donald Trump misalnya. Salah satu sosok Tokoh yang sangat Kontroversial ini pernah suatu ketika mengalami krisis ekonomi dunia di awal 90an, Trump bukan hanya bangkrut total, tapi juga punya hutang sebesar 900 juta dolar. Tapi hanya dalam waktu singkat, Trump bisa kembali berjaya.
Nah, pertanyaannya adalah, apa sih sebenarnya yang dilakukan Donald Trump sehingga dia bisa membalikkan keadaan dalam waktu sesingkat itu..?? Dalam The Wealth Paradox, Roger Hamilton menyebut orang orang seperti Donald Trump ini sebagai Wealth Creator. Yaitu mereka yang fokus pada membangun wealth foundation ketimbang sibuk melakukan money making activities. Mereka membangun reputasi, menciptakan jaringan yang kuat, membekali diri dengan ilmu, keahlian, kompetensi, dan seterusnya.
Ibaratnya, wealth foundation adalah taman kita dan uang adalah kupu-kupu yang hinggap di taman kita. Kupu-kupu bisa datang dan pergi kapan saja, sama seperti uang. Walau demikian, kupu-kupu tersebut akan terus datang dan hinggap, bahkan semakin hari semakin banyak, ketika kita berhasil membangun sebuah taman yang semakin hari semakin indah. Dengan kata lain, ketika kita terus membangun dan meningkatkan wealth foundation, lihatlah, uang dan kekayaan justru akan terus berdatangan menghampiri kita.
4:28 PM   Posted by My Science in with No comments
Read More

Sudah 3 bulan ini aku punya asisten. Namanya Inez. Dia 4 tahun lebih muda dari aku. Meski begitu, diam diam aku banyak belajar darinya. Dalam hal pekerjaan, Inez adalah tipe orang yang punya prinsip works for learning, bukan works for earning.
Jadi gak heran, kehadirannya ibarat malaikat penolong buat kami. Ia begitu helpful. Gak itungan soal pekerjaan. Dimintai tolong apappun, dengan antusias ia selalu bilang yes, sekalipun itu bukan tugas dia. Baginya, bekerja adalah alat untuk belajar, bertumbuh dan kesempatan untuk ikut berkontribusi.
Ia juga pernah bilang gini, “Dengan banyak belajar mengerjakan hal hal baru, siapa tahu aku bisa menemukan kemampuan terbaikku.” Super sekalii kan? Menurutku Inez adalah orang yang paham tentang apa itu kerja dan apa itu karir. Meski aku tidak yakin Inez sendiri menyadarinya.
Kalau menurut Rene Suhardono dalam bukunya Your Job Is Not Your Career, karier adalah milik kita sendiri. Karir lebih menyangkut tentang passion, tujuan hidup, values, dan motivasi dalam berkarya untuk memberikan kontribusi kepada lingkungan kita. Sedangkan pekerjaan atau Job adalah milik perusahaan, berkaitan dengan tujuan perusahaan, job description, lingkungan kerja dan kompensasi. JOB hanyalah sebuah alat, sebagaimana mobil, yang akan mengantarkan kita dari satu tempat ke tempat lain.
Nah, kembali ke soal karir. Karir juga sangat dipengaruhi oleh refleksi diri dan sudut pandang diri kita. Apabila kita menganggap karir kita adalah seberapa banyak uang yang masuk ke dalam rekening kita tiap bulannya, jabatan, pangkat ataupun gelar akademis, maka itulah refleksi dari karir kita. Meski sebenarnya, uang atau jabatan hanyalah atribut, bukan esensi dari karir.
Selain itu, Rene juga menyinggung soal Passion. Rene menegaskan bahwa passion berbeda dengan hobi, “Passion bukanlah segala sesuatu yang kita kuasai, tapi sesuatu yang kita cintai. It’s about what you enjoy the most!.
Gambaran sederhananya, passion adalah sesuatu yang kita lakukan dengan sepenuh hati, dengan segenap cinta yang kita miliki, sekalipun kita tidak dibayar. Passion sendiri adalah salah satu unsur karir. Karir haruslah melibatkan passion, tujuan hidup, values, achievement, dan kebahagiaan.” Menemukan passion ini adalah hal yang gampang-gampang susah karena sesungguhnya passion itu sudah ada di dalam diri kita sendiri. “Your passion is your most precious gift from our Creator”.
Terus kalau ada pertanyaan kenapa kita harus menggali dan mengenali passion kita? Jawabannya adalah “Because you are your most resilience, your most innovative, and your most amazing in your passion. And your passion shall lead you to the best version of yourself!”
4:18 PM   Posted by My Science in with No comments
Read More

Banyak orang berpikir bahwa kebahagiaan adalah soal kekayaan, soal seberapa banyak uang yang kita miliki. Maka banyak orang yang menghabiskan sebagian besar waktunya, siang dan malam, hanya untuk mencari uang. Mereka pikir, dengan punya banyak uang, mereka bisa memiliki apapun yang diinginkan. Setelah uang didapat, target selanjutnya adalah mencari kebahagiaan. Nah, pertanyaannya kemudian adalah, apa benar uang dan barang-barang yang berhasil kita beli itu lantas secara otomatis bisa membuat kita bahagia?
Ada sebuah studi menarik terkait uang dan kebahagiaan yang dilakukan oleh Warwick University. Hasil studi tersebut dijadikan tulisan dengan judul yang cukup menggelitik, “Money Only Makes You Happy If It Makes You Richer Than Your Neighbour”. Ya, uang hanya bisa membuat kita bahagia jika sudah bisa membuat kita lebih kaya dari tetangga.
Hasil studi tersebut sekaligus membuktikan bahwa manusia memang suka membandingkan dirinya dengan orang lain. Hasil perbandingan itu kemudian digunakan sebagai penentu kebahagiaan. Kalau hasilnya menunjukkan kita lebih baik, lebih pintar, ataupun lebih kaya dibanding orang lain, kita baru merasa bahagia.
Tapi yang jadi masalah adalah, haruskah kita menjadi orang yang lebih kaya dulu baru kemudian bahagia..?? Setiap hari banyak orang kaya yang lebih kaya dari kita. Jika kita harus lebih kaya dulu baru kemudian bisa bahagia, akan sampai kapan kita bisa menjadi kaya yang sempurna?
4:13 PM   Posted by My Science in with No comments
Read More


Mumpung kita masih muda, so don’t waste our time..!! Yaa,..lagu milik Fun ini selalu menjadi semacam dopingku atau juga bisa saja disebut sebagai moodbooster setiap paginya. Sebagai pelecut semangat untuk mengawali hari. By the way,..bener kata mereka, masa muda adalah asset yang sangat mahal harganya.
Kekuatan seorang manusia, khususnya fisik, berada di puncaknya di usia antara 25 sampai 30 tahun, dan setelah itu akan menurun 0,8 sampai 1 persen tiap tahunnya. Perkembangan kognitif, dan kekuatan daya pikir juga menajam di usia itu. Jadi, sayang banget kalau potensi ini tidak kita manage dengan bijak.
Masih inget kan kisah kekejaman Adam Lanza yang menembaki secara brutal anak anak di SD Sandy Hook, Newton, Connecticut, akhir tahun 2012 yang lalu? Waktu itu Adam masih berusia 20 tahun dan merasa tertekan karena perceraian orang tuanya. Ledakan emosinya itu sungguh mencengangkan. Adam yang dikenal sebagai anak cerdas dan pendiam itu ternyata bisa bersikap begitu ekstrim.
Tapi di sisi lain, jika kita mampu memanage potensi masa muda kita dengan baik, bukan hanya ketenangan saja yang kita rasakan, tetapi kita bisa juga meraih hidup yang menakjubkan, the wonderful life..!! Dan banyak kok anak muda di dunia ini yang berhasil melakukannya. Sebut saja Mark Zuckerberg misalnya. Pendiri Facebook ini telah merintis sebuah wonderful life-nya sejak usia belia, dan hasilnya sungguh spektakuler. Di umur yang baru 24 tahun, dia berhasil masuk di jajaran orang terkaya di dunia..!!
Atau yang tak kalah dahsyatnya, kita bisa melihat dari apa yang dilakukan oleh Malala Yousafzai. Di usianya yang masih 17 tahun, remaja Pakistan ini berhasil meraih penghargaan Nobel Perdamaian 2014 karena perjuangannya untuk pendidikan anak anak perempuan di negerinya. Keren kan..?? So, use your youth wisely, and set the world on fire
3:52 PM   Posted by My Science in with No comments
Read More


Huuuhh.. sudah hampir satu jam aku berdiri ngantri di kasir. Kalau bukan karena pesenan mama, gak bakalan deh aku nyempetin belanja di awal bulan kayak gini. Tahu sendiri kan kayak apa mall mall di awal bulan..?? Supeerrr penuuhh..!! Crowded buanget..!! Orang orang kayaknya pada lomba belanja. Borong sana, borong sini..!! Shopping udah jadi semacam life style. Gak peduli tagihan yang entar numpuk di belakang. Jangankan berinvestasi, nabung aja gak kepikiran. Ini sangat bertolak belakang sama gaya hidup orang orang sukses.

Li Ka Shing misalnya. Orang terkaya di Asia versi majalah Forbes ini membagikan kebiasaan hidupnya. Menurut Li, apapun yang terjadi dan tidak peduli berapa pun penghasilan kita, kita harus membaginya menjadi 5 bagian. Dengan begitu kita dapat mengatur pengeluaran dengan baik.
Li Ka Shing memberi contoh sederhana seperti ini. Jika kita memiliki penghasilan Rp.4,000,000, maka hal yang bisa kita lakukan adalah:
  • Yang pertama, sisihkan Rp. 1,2jt (30%) untuk biaya hidup. Ini berarti kita dituntut untuk bisa spend kurang lebih Rp.40rb per hari, untuk transportasi plus makan.
  • Yang kedua, gunakan Rp. 800ribu (20%) untuk sosialisasi. Anggarkan Rp. 200rb untuk pulsa telepon. Traktir teman-teman Anda sebanyak 2x per bulan, masing-masing kurang lebih Rp.300rb. Jika dilakukan setiap bulan selama 1 tahun, network kita pasti nambah. Ingat, bahwa yang kita traktir adalah orang-orang yang lebih dari kita, lebih kaya, lebih pintar, atau mereka yang berperan dalam membantu kita dalam meniti karir.
  • Ketiga, anggarkan Rp. 600rb (15%) untuk belajar. Sisihkan sebagian untuk beli buku dan sisanya untuk mengikuti kursus/workshop. Semakin besar pendapatan kita, pastikan untuk menghadiri kelas-kelas yang lebih advance.Keempat, sisihkan Rp. 400rb (10%) untuk berlibur. Gunakan penginapan sederhana dan bepergian ala backpacker. Selain untuk menyegarkan pikiran, liburan akan membuka mata kita mengenai dunia di luar. Dan yang terakhir, gunakan Rp. 1jt (25%) sisanya untuk berinvestasi. Bisa juga berbisnis hal yang kecil-kecil dulu. Beli barang grosiran dan jual secara ritel. Pengalaman yang didapatkan dari berdagang akan sangat berharga dalam hidup. Dan kalaupun rugi, ruginya masih kecil. Jika berhasil, sisihkan keuntungan untuk investasi jangka panjang agar keuangan kita terjamin di masa depan.

Satu lagi pesan dari Li Ka Shing. Saat Anda miskin, berbaiklah kepada orang lain. Jangan penuh perhitungan, jangan banyak memilih. Jadilah orang yang bermanfaat bagi orang lain. Saat Anda kaya, jaga diri dan jangan mudah dimanfaatkan orang, Anda harus murah hati dan mudah berbagi. Pada titik ini, niscaya kehidupan Anda akan mencapai keseimbangan.

3:35 PM   Posted by My Science in with No comments
Read More

Thursday, February 9, 2017




Hidup memang selalu menyajikan hal hal yang tak terduga. Kemaren, pas ketemuan makan siang dengan klien, aku bertemu dengan Daniel, teman sekelasku saat SMA. Setelah ngobrol sejenak, aku baru tahu, kalo ternyata restoran mewah ini adalah milik Daniel. Bahkan dia masih punya 2 lagi di tempat lain.
Jujur, aku sempat heran, bagaimana bisa si Daniel yang dulu selalu dibully teman teman karena langganan mendapat nilai jeblok di semua mata pelajaran bisa berubah menjadi seorang pengusaha sukses seperti ini..?? Belum sempat aku memikirkan kemungkinan kemungkinannya, dengan antusias Daniel mengajakku menuju ke ruangannya.
Begitu kami duduk, sepertinya Daniel bisa membaca isi pikiranku. Dengan tersenyum dia bilang, ”Kamu pasti herankan aku bisa seperti ini?.” Belum sempat aku menjawab, Daniel langsung berdiri, mengambil sebuah buku yang ada di meja kerjanya. Ia sodorkan buku itu ke arahku sambil berkata, ”Semua berkat buku ini, Adversity Quotient, Paul G Stoltz.”
Hmm..iya sih, buku itu memang keren. Di situ, Paul G Stoltz mengemukakan satu betuk kecerdasan baru, namanya Adversity Quotient atau AQ, kecerdasan untuk mengatasi kesulitan. Dengan adversity quotient yang memadai, seseorang mampu mengubah suatu hambatan menjadi peluang.
Sebagai gambaran, Stoltz memakai terminologi pendaki gunung. Stoltz membagi para pendaki gunung menjadi 3 bagian. Yang pertama adalah Quitters. Para Quitters ini adalah mereka yang sekedar bertahan hidup. Mudah putus asa dan menyerah di tengah jalan.
Sedangkan yang kedua adalah Campers. Campers adalah mereka yang berani mengambil resiko, tetapi resiko yang aman aman saja dan terukur. Cepat puas dan berhenti di tengah jalan. Dan yang ketiga adalah Climbers, yaitu para pendaki yang terus berani menghadapi berbagai resiko. Need of achievement mereka begitu tinggi. Jadi tidak mengherankan kalau merekalah yang selalu berada di puncak.
So, what are you wanna be? Quitters? Campers? or Climbers? Choice is yours..
9:10 PM   Posted by My Science in with No comments
Read More


Pagi ini, aku harus berangkat kerja lebih awal karena mesti nganterin Dipo, ponakanku, ke sekolah. Aku sempat shock saat ngebantuin ngangkat tas sekolahnya. Astagaa.. Ini tas sekolah anak SD apa mobil pick up..?? Beraaattt banget.
Saat kutanya isinya apa aja, si Dipo cuma nyengir. Setelah aku cek, busyeeett, ternyata itu memang buku buku pelajaran dan tugas untuk hari ini. Aku jadi inget curhatan Kak Dini, ibu Dipo. Selain tugas tugas dan jam pelajaran yang padat, materi pelajaran anak SD jaman sekarang juga agak berat.
Iya juga sih, kalau dipikir piker benar juga kata kakakku tadi. Dan kalo boleh beropini, based on pengalaman pas sekolah kemaren, siswa di negeri kita ini sepertinya “diharuskan” menjadi manusia super yang menguasai seluruh ilmu, baik sains, sosial dan juga bahasa.
Sepertinya, paradigma pendidikan di Indonesia hanya berpusat pada bagaimana anak mendapat nilai bagus, bahasa sederhananya sih IQ oriented. Menurutku IQ emang penting, tapi bukan segala galanya.
Kalau soal IQ, aku jadi inget kisah Christopher Langan. Nama Christopher Langan memang gak ada apa-apanya jika dibandingin nama besar Albert Einstein. Tetapi, tidak banyak yang tahu bahwa Chris Langan ternyata mempunyai IQ (intelligence quotient) yang jauh di atas Einstein. Chris Langan memiliki IQ 200, sementara IQ sang fisikiawan jenius penemu Teori Relativitas itu ‘hanya’ 160.
Dengan IQ super yang 40 poin di atas Einstein, boleh jadi banyak dari kita yang berpikir masa depan Chris Langan pastilah cemerlang. Mungkin ia bakal jadi ilmuan sukses seperti Einstein. Atau pemimpin Negara layaknya B.J. Habibie, mantan Presiden Indonesia, yang juga ber-IQ 200. Atau, paling tidak, memimpin lembaga keuangan ternama seperti Sri Mulyani, Managing Director Wold Bank dan mantan Menteri Keuangan Indonesia, yang ber-IQ 157.
Sayangnya, tidak. Kisah hidup Chris Langan jauh dari cerita sukses. Pendidikannya gagal, ia di-droup out pada tahun pertama kuliahnya. Dan, sampai usia setengah 50 tahun, ia masih bekerja serabutan, terkadang jadi kuli bangunan, bahkan sempat menjadi tukang pukul di sebuah bar.
Pertanyaannya, mengapa para jenius seperti Einstein, Habibie, atau Sri Mulyani bisa meraih kesuksesan, sementara Chris Langan tidak?
Lewat bukunya Outliers, Malcolm Gladwell meneliti rahasia di balik orang-orang sukses. Menurut Gladwell, orang-orang berprestasi luar biasa alias outlier tidak muncul tiba-tiba. Modalnya juga bukan cuma IQ, bakat, ataupun kemampuan pribadi. Untuk menjadi outlier, mereka butuh dukungan lingkungan, mampu melihat dan memaksimalkan peluang, dan yang utama adalah kemauan untuk terus menempa diri.

2:05 PM   Posted by My Science in with No comments
Read More

Search