Wacana Keilmuan dan Keislaman
  • Civic Diary: Your IQ Is Not Everything

    Lewat bukunya Outliers, Malcolm Gladwell meneliti rahasia di balik orang-orang sukses. Menurut Gladwell, orang-orang berprestasi luar biasa alias outlier tidak muncul tiba-tiba. Modalnya juga bukan cuma IQ, bakat, ataupun kemampuan pribadi.
    Untuk menjadi outlier, mereka butuh dukungan lingkungan, mampu melihat dan memaksimalkan peluang, dan yang utama adalah kemauan untuk terus menempa diri.

  • Cerita Seorang Ibu yang Mengajari Arti Dari Sebuah Kesabaran Dan Kegigihan

    Di acara Watkins Annual Gathering, ia mempersembahkan penghargaan itu untuk kedua orangtuanya, “Saya senang menjadi penjual. Ayah saya dulunya juga seorang penjual; dan ibu saya mengajari kesabaran dan kegigihan. Dia takkan membiarkan saya menyerah.”

  • Pentingnya Ilmu Pengetahuan dalam Islam

    Manusia lahir ke dunia dilengkapi dengan seperangkat kemampuan internal, yakni rasa ingin tahu (curiousty) tentang sesuatu. Setelah sesuatu itu diperoleh, dengan akalnya manusia dapat memilah-milah sesuatu dengan jenis dari sesuatu itu.
    Dengan akal, manusia dapat melakukan observasi, penyelidikan, penelitian dan eksperimen untuk menemukan kebenaran, yang kemudian kebenaran ini terus dikembangkan menjadi teori.

Showing posts with label Inspiration. Show all posts
Showing posts with label Inspiration. Show all posts

Sunday, February 12, 2017



Sikap berterima kasih atau bersyukur mendorong terjalin dan terbinanya persahabatan antar manusia. Inilah kesimpulan S.B. Alqoe dkk. asal University of Virginia, Amerika Serikat (AS). Hasil penelitiannya dimuat di jurnal ilmiah Emotion, edisi Juni 2008 dengan judul “Beyond reciprocity: gratitude and relationships in everyday life” (Lebih dari sekedar hubungan timbal balik: sikap bersyukur dan persahabatan dalam hidup keseharian).
Dalam karya ilmiah itu para ilmuwan meneliti peran sikap bersyukur atau berterima kasih yang muncul secara alamiah dalam perkumpulan mahasiswa di perguruan tinggi selama acara “pekan pemberian hadiah” dari anggota lama kepada anggota baru. Para anggota baru mencatat tanggapan atas manfaat yang mereka dapatkan selama pekan tersebut.
Di akhir pekan itu, dan satu bulan kemudian, anggota lama dan anggota baru menilai keadaan persahabatan dan hubungan di antara mereka. Kesimpulannya, rasa terima kasih atas pemberian hadiah berpeluang memicu terbentuknya dan terpeliharanya persahabatan di antara mereka.
Aneka Manfaat Syukur
Selain jalinan persahabatan yang baik, sikap bersyukur kini terbukti secara ilmiah memicu pula aneka manfaat lain. Di antaranya manfaat kesehatan jasmani, ruhani dan kehidupan bermasyarakat yang lebih baik. Tidak heran jika “gratitude research” atau “penelitian tentang sikap bersyukur” menjadi salah satu bidang yang banyak diteliti ilmuwan abad ke-21 ini.
Profesor psikologi asal University of California, Davis, AS, Robert Emmons, sekaligus pakar terkemuka di bidang penelitian “sikap bersyukur”, telah memperlihatkan bahwa dengan setiap hari mencatat rasa syukur atas kebaikan yang diterima, orang menjadi lebih teratur berolah raga, lebih sedikit mengeluhkan gejala penyakit, dan merasa secara keseluruhan hidupnya lebih baik.
Dibandingkan dengan mereka yang suka berkeluh kesah setiap hari, orang yang mencatat daftar alasan yang membuat mereka berterima kasih juga merasa bersikap lebih menyayangi, memaafkan, gembira, bersemangat dan berpengharapan baik mengenai masa depan mereka. Di samping itu, keluarga dan rekan mereka melaporkan bahwa kalangan yang bersyukur tersebut tampak lebih bahagia dan lebih menyenangkan ketika bergaul.
Dulu, sikap bersyukur atau berterima kasih sama sekali tidak terjamah dalam kajian ilmuwan psikologi tatkala profesor Emmons mulai mengkajinya di tahun 1998. Penelitian pertama prof Emmons melibatkan para mahasiswa kuliah psikologi kesehatan di universitasnya.
Saat itu sang profesor mewajibkan sebagian dari para mahasiswa tersebut untuk menuliskan lima hal yang menjadikan mereka bersyukur setiap hari. Sedangkan mahasiswa selebihnya diminta mencatat lima hal yang menjadikan mereka berkeluh kesah. Tiga pekan kemudian, mahasiswa yang bersyukur memberitahukan adanya peningkatan dalam hal kesehatan jiwa-raga dan semakin membaiknya hubungan kemasyarakatan dibandingkan rekan mereka yang suka menggerutu.
Di tahun-tahun berikutnya, profesor Emmons melakukan aneka penelitian yang melibatkan beragam kondisi manusia, termasuk pasien penerima organ cangkok, orang dewasa yang menderita penyakit otot-saraf dan murid kelas lima SD yang sehat. Di semua kelompok manusia ini, hasilnya sama: orang yang memiliki catatan harian tentang ungkapan rasa syukurnya mengalami perbaikan kualitas hidupnya.
Dampak Latihan Bersyukur
Melalui latihan, perasaan bersyukur dapat dibiasakan dalam diri seseorang. Pelatihan sengaja untuk menanamkan rasa syukur ini ternyata membawa dampak positif dalam beragam sisi kehidupan.
Dalam penelitian menggunakan metoda membandingkan, ditemukan bahwa mereka yang menuliskan rasa syukurnya setiap pekan mendapatkan manfaat jasmani-ruhani yang lebih baik dibandingkan mereka yang terbiasa mencatat peristiwa menjengkelkan dan kejadian yang biasa-biasa saja. Di antara manfaat ini adalah olah raga yang lebih teratur, lebih sedikit mengeluhkan gejala penyakit badan, merasa hidupnya secara keseluruhan lebih baik, dan berpengharapan lebih baik di minggu mendatang.
Manfaat lain sikap berterima kasih tampak pada keberhasilan dalam mewujudkan cita-cita. Dibandingkan dengan orang-orang yang bersikap sebaliknya, mereka yang senantiasa memiliki daftar ungkapan rasa syukur lebih cenderung mengalami kemajuan dalam pencapaian cita-cita mereka. Cita-cita ini dapat berupa prestasi akademis, hubungan antar-sesama dan kondisi kesehatan.
Penelitian lain dilakukan dengan melatih pembiasaan sikap bersyukur setiap hari pada diri sendiri. Kondisi positif seperti: waspada, bersemangat, tabah, penuh perhatian, dan daya hidup pada orang muda dewasa meningkat akibat pembiasaan sikap bersyukur. Perbaikan kondisi sebaik ini tidak dijumpai pada orang yang dilatih bersikap menggerutu atau pada orang yang menganggap dirinya lebih sejahtera dibanding orang lain.
Selain itu, mereka yang memiliki rasa syukur setiap hari lebih memiliki jiwa sosial yang lebih baik dibandingkan mereka yang suka berkeluh kesah dan suka menganggap orang lain kurang beruntung. Golongan yang pertama tersebut cenderung menolong seseorang yang memiliki masalah pribadi, atau telah membantu dukungan semangat kepada orang lain.
Pasien pun tak luput dari penelitian seputar sikap bersyukur ini. Dengan melibatkan sejumlah orang dewasa pengidap penyakit otot-saraf, pelatihan membiasakan sikap bersyukur berdampak baik pada pasien tersebut. Di antaranya adalah kualitas dan lama tidur yang lebih baik, lebih optimis dalam menilai kehidupan, lebih eratnya perasaan persahabatan dengan orang lain, serta suasana hati tenteram yang lebih sering dibandingkan dengan mereka yang tidak dilatih bersikap syukur.
Ketika Syukur Menjadi Kebiasaan
Insan yang bersyukur menyatakan diri mereka merasakan tingginya perasaan positif, kepuasan hidup, semangat hidup, dan pengharapan baik di masa depan. Mereka juga mengalami kemurungan dan tekanan batin dengan kadar rendah.
Kalangan yang memiliki kebiasaan kuat dalam bersyukur atau berterima kasih memiliki kemampuan menyelami jiwa orang lain dan mengambil sudut pandang orang lain. Mereka ditengarai lebih dermawan dan lebih ringan tangan oleh orang-orang di jalinan persahabatan mereka.
Terdapat pula kaitan antara kerohanian seseorang dengan sikap bersyukur. Kecenderungan bersyukur lebih banyak dilakukan mereka yang secara teratur menghadiri acara keagamaan dan terlibat dalam kegiatan keagamaan seperti berdoa atau sembahyang dengan membaca bacaan relijius berkali-kali. Kaum yang bersyukur lebih cenderung mengakui keyakinan akan keterkaitan seluruh kehidupan, serta rasa ikatan dan tanggung jawab terhadap orang lain.
Pribadi-pribadi yang bersyukur dilaporkan memiliki sifat materialistis yang rendah. Mereka tidak begitu menaruh perhatian penting pada hal-hal yang bersifat materi. Mereka cenderung tidak menilai keberhasilan atau keberuntungan diri mereka sendiri dan orang lain dari jumlah harta benda yang mereka kumpulkan.
Dibandingkan dengan kaum yang kurang berterima kasih, kalangan yang bersyukur cenderung bukan berwatak pendengki terhadap kaum kaya, dan bersikap mudah memberikan apa yang mereka punya kepada orang lain.
Nikmat Bertambah
Profesor Emmons menuangkan hasil-hasil temuan ilmiahnya itu dalam buku terkenalnya “Thanks! How the New Science of Gratitude Can Make You Happier” (Terima kasih! Bagaimana Ilmu Baru tentang Bersyukur Dapat Menjadikan Anda Lebih Bahagia) yang terbit tahun lalu. Buku ini memaparkan pula 10 kiat untuk menanamkan rasa syukur sepanjang tahun demi mendapatkan nikmat karunia yang bermanfaat dalam kehidupan.
Temuan ilmiah tentang syukur ini mengukuhkan risalah ilahiah bahwa syukur adalah akhlak mulia yang mesti ada dalam diri manusia. Sebab, syukur memicu bertambah nikmat hidup seseorang.

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat. (Al Quran, Ibrahim, 14:7). – Seperti dikutip dari www.hidayatullah.com

(Ditulis oleh: Andi Odang)
1:37 PM   Posted by My Science in with No comments
Read More


Jika belakangan ini kita kerap mendengar perbincangan seputar ”Hukum Tarik-menarik” atau The Law of Attraction menjadi topik paling hangat yang jadi bahan obrolan, bisa jadi itu dipicu oleh maraknya buku-buku dan film yang terbit dalam 2 tahun terakhir. Sejak buku berjudul ”The Secret” diterbitkan, menyusul versi film yang sebelumnya telah diluncurkan, banyak diikuti oleh buku-buku lain yang juga membahas prinsip yang sama, yaitu kekuatan harapan dalam menarik hal-hal yang akan mendukung menjadi kenyataan.
Meski tampak baru, tapi sebenarnya prinsip dan hukum itu telah lama diketahui dan diyakini kebenarannya. Sejak 350 Tahun Sebelum Masehi misalnya, manusia telah mengenal prinsip: Aristotelian Principle of Causality, atau yang sekarang kita kenal dengan ‘Hukum sebab akibat’! Tetapi yang barangkali jauh lebih nyata dalam mengungkapkan: Kekuatan Harapan yang mampu mengubah kenyataan, adalah legenda populer yang dikisahkan oleh Ovid, dalam mitos yang berjudul Pygmalion.
Pygmalion adalah nama seorang pangeran dari Siprus, yang sangat lihai dalam memahat patung. Pangeran ini konon kabarnya begitu kesepian karena tidak pernah tertarik dengan seorang perempuan pun. Suatu ketika, Ia memahat patung yang terbuat dari gading hingga berbentuk seorang wanita. Karena saking begitu indah dan sempurnanya patung buatannya itu, Pygmalion pun jatuh cinta pada patung tersebut.
Saking cintanya, ia sampai memohon pada Dewi Venus untuk menghidupkan patung tersebut agar bisa menjadi teman hidupnya. Dan disinilah letak inti prinsip kerja kekuatan harapan, Karena Pygmalion menaruh harapan yang sangat besar, maka ia memohon dengan sungguh-sungguh dan tulus, hingga sang Dewi cinta itupun akhirnya mengabulkan permohonannya. Singkatnya, patung itu benar-benar menjelma menjadi seorang wanita sejati yang cantik jelita. Maka mereka berdua kemudian menikah dan punya anak bernama Paphos.
Kisah Pygmalion memang hanyalah sekedar legenda yang mustahil terjadi di alam nyata, akan tetapi beberapa prinsip didalamnya, ternyata bukanlah sekedar dongeng semata. Dimana sering kurang kita sadari, ”Harapan kita terhadap seseorang akan merubah harapan orang tersebut terhadap dirinya sendiri… yang pada akhirnya akan merubah harapan tersebut menjadi kenyataan.”
Keterkaitan hubungan sebab-akibat seperti itu telah berkali-kali terbukti dalam berbagai riset dan penelitian. Seperti yang pernah dilakukan Rosenthal dan Jacobson pada tahun ’60-an, mereka meneliti beberapa sekolah dasar di Amerika. Sebelum penelitian dilakukan, para guru diberitahu daftar nama-nama murid yang memiliki memiliki IQ yang lebih tinggi. Kemudian selama penelitian berlangsung, secara teratur dilakukan tes IQ terhadap para murid tersebut. Ajaibnya, IQ kelompok murid yang diharapkan memiliki IQ lebih tinggi, ternyata betul-betul ber-IQ jauh lebih tinggi dibanding murid-murid lainnya. Padahal sebetulnya, semua murid itu telah menjalani tes IQ sebelum penelitian, yang menunjukkan bahwa IQ semua murid di kelas itu sebenarnya merata, atau lebih kurang sama!
Jadi, apa yang sesungguhnya membuat beberapa murid pada akhirnya benar-benar ber-IQ jauh lebih tinggi? Rosenthal dan Jacobson mengatakan, penyebab utamanya adalah ”harapan dari para guru!” Secara tidak sadar, harapan-harapan tersebut memperkuat citra diri beberapa murid. Citra diri itulah yang kemudian membuat beberapa murid belajar lebih keras, serta meningkatkan harapan mereka sendiri, sampai akhirnya mempertebal rasa peraya pada diri sendiri (confidence). Hebatnya, ketika penelitian yang sama kembali dilakukan, baik kepada para mahasiswa, maupun diterapkan di kalangan para eksekutif perusahaan, hasilnya tetap saja sama. Konsep inilah yang kemudian dikenal secara luas dengan istilah efek Pygmalion!
Melihat kisah dan fakta diatas, kita lalu ingin berandai-andai; seperti apa jadinya kalau saja efek Pygmalion itu terjadi di kehidupan nyata kita pada saat ini? Dimana semua orangtua, mengharapkan hanya yang terbaik bagi anak-anaknya. Lalu para suami atau istri, juga hanya melihat pada sisi positif sehingga berharapan baik pada pasangannya. Begitu juga dengan para guru dan staff pengajar terhadap para anak didiknya, kemudian para boss dan pengusaha terhadap pekerjanya, serta para pemimpin kepada anak buahnya, pun pemerintah kepada semua rakyatnya, dan begitu juga sebaliknya? Sementara itu, semua media yang ada, juga lebih gemar mengabarkan kebaikan dan menginspirasi kehebatan daripada melansir kabar kemalangan, pencurian, korupsi, perselingkuhan dan pembunuhan? kira-kira akan seperti apa jadinya? Seperti yang sudah terbukti melalui validitas hasil penelitian yang berkali-kali dilakukan, sudah pasti, secara bersama-sama kita akan mentransformasikan kualitas hidup kita, baik secara individu maupun kehidupan kita dalam bermasyarakat dan berbangsa.
Jadi, kenapa tidak segera kita mulai dari diri kita sendiri?
(Ditulis oleh: Andi Odang)
12:41 PM   Posted by My Science in with No comments
Read More

Saturday, February 11, 2017



Dia yang tahu dan mengerti “mengapa” dia hidup, akan mampu menghadapi hampir semua keadaan dan tahu soal “bagaimana!” demikian ungkap, Viktor E. Frankl, seorang Ahli dan perumus Logo Terapi.
Mantan penghuni kamp nazi yang lolos dari kematian atas siksaan kaum fasis nazi itu, pernah menyaksikan dan mengalami berbagai penderitaan di dalam kamp maut. Ia menegaskan, “Personal meaning” menjadi hal penting yang menggerakkan individu untuk mencapai prestasi.
Menurutnya, meaningfulness atau kebermaknaan dalam hidup berhubungan dengan: Self Esteem yang tinggi dan perilaku yang murah hati terhadap orang lain.
Sebaliknya, meaningless atau ketiadaan makna dalam hidup berpasangan dengan ketidakpedulian, sikap nge-less atau melepaskan diri (diengagement).
Seseorang yang menjalani hidup dengan penuh kesadaran, memahami bahwa yang paling dirindukan oleh jiwa adalah menemukan makna hidup.
Para Ilmuwan merindu dan mencarinya ke dalam dunia ilmu pengetahuan. Para filosof merindu dan mencarinya ke dalam filsafat. Para guru atau pendidik merindu dan mencarinya ke dunia pendidikan, bahkan para karyawan dan para pekerja bangunan merindu dan mencarinya ke dalam pekerjaan mereka… Seperti halnya Santiago sang penggembala dalam buku The Alchemist yang merindu dan mencari makna hidupnya ke dalam domba-domba, kastil-kastil dan padang-padang rumput.
Apapun minat, bakat, serta bidang pekerjaannya, kita berada dalam “arus kecenderungan” yang sama, yaitu menemukan makna hidup! Kenyataan itu sekaligus menjelaskan, bahwa kedatangan jiwa ke dunia ini adalah untuk mencapai satu tujuan, yaitu menyadari dan memahami makna kehidupan. Setiap jiwa, berjuang untuk mencapai tujuan itu, baik secara material maupun spiritual, dengan jalan yang berbeda-beda.
Setiap individu dibekali kemampuan untuk melawan lingkungan luar yang sulit, serta untuk menahan dorongan fisik maupun psikologis agar dapat memasuki level baru dalam eksistensi diri, yaitu “meaning“ atau makna; yang membuat kehidupan individu itu menjadi signifikan dan bernilai.
Dalam bukunya “Man’s Search For Meaning”, Frankl menyebutkan tiga asumsi:
  1. kehidupan memiliki meaning/makna yang sangat luas, bahkan pada situasi yang paling menyakitkan atau tidak ada harapan.
  2. Sebenarnya sejak lahir kita semua dilengkapi “will to meaning” yang tidak mengejar kekuasaan atau kesenangan, melainkan untuk menemukan makna dan tujuan hidup, motivation for living, kehendak untuk hidup bermakna.
  3. Frankl percaya bahwa setiap orang memiliki kebebasan untuk menemukan personal meaning (makna hidup pribadi) dalam berbagai situasi, entah melalui aktivitas, pengalaman atau melalui sikap yang bermakna.
(Ditulis oleh: Andi Odang, CEO CRadio)
8:52 PM   Posted by My Science in with No comments
Read More


Alkisah di negeri antah-berantah, berkuasalah seorang raja tua yang sangat lalim. Tak ada satu pun kekuatan yang bisa menghalangi kesemena-menaan sang raja terhadap rakyatnya. Hingga pada suatu ketika sang raja jatuh sakit, dan berkumpulah semua tabib terbaik yang ada di kerajaan tersebut. Setelah beberapa saat memeriksa penyakit yang diderita sang raja, tabib pun menyampaikan temuannya: yaitu Raja menderita suatu penyakit aneh yang akan segera merenggut nyawanya, kecuali ditemukan obat penawarnya yang sangat sulit dicari, berupa ”jantung manusia terpilih.” Mendengar hal itu, raja segera memerintahkan seluruh bala tentara kerajaan untuk mencari manusia terpilih yang dimaksud, agar penyakitnya dapat segera disembuhkan.
Demikianlah, seluruh pasukan kerajaan pun disebar keseluruh penjuru negeri, guna menemukan manusia terpilih itu. Singkatnya, orang yang dicari itu berhasil diketemukan. Ia adalah seorang bocah belasan tahun, putera tunggal sepasang petani miskin. Menyadari bahwa anak satu-satunya mau dibawa ke istana dan jantungnya akan dipersembahkan kepada raja, orangtua si bocah menangis sejadi-jadinya. Untungnya si bocah ternyata anak yang tabah. Dalam keadaan seperti itu, ia justru yang menenangkan kedua orangtuanya. Sehingga, meski orangtuanya tetap tak rela, tetapi anak itu berangkat bersama rombongan tentara kerajaan.
Sesampai di istana, si bocah itu pun dibawa menghadap sang baginda raja. Sejenak sebelum dilakukan pembedahan untuk mengambil jantung anak itu, raja menyempatkan bertatap muka dengan si bocah.
”Berapa umurmu?” tanya raja.
”14 tahun yang mulia” jawab anak itu.
”Tahukah kamu, kenapa kamu dibawa kemari?”
Dengan tenang si anak menjawab,
”hamba paduka, hamba paham. Hamba sungguh merasa sangat bangga jika melalui hamba, paduka bisa sembuh seperti sedia kala”
Dengan masih penasaran oleh ketabahan dan ketenangan si bocah, raja kembali bertanya.
”tahukah kamu bahwa kesembuhanku harus ditukar oleh nyawamu?”
Dengan polos si bocah menjawab
”hamba siap menyerahkan nyawa, demi kesembuhan paduka”
Mendengar jawaban itu sang raja terhenyak, ditatapnya dalam-dalam mata sang bocah. Sejenak, suasana hening memenuhi suasana. Pada momen itu, masuklah seberkas insight kedalam benak sang raja. Bagaimana mungkin bocah yang masih semuda itu bisa begitu tulus dan begitu tenang mengikhlaskan nyawanya untuk orang lain?
Sejurus kemudian, pikiran raja mulai berkecamuk, dipenuhi oleh rasa malu, khususnya malu pada diri sendiri. Kalau bocah belasan tahun dihadapannya, yang masih mempunyai masa depan panjang, rela kehilangan nyawa bagi dirinya, kenapa ia yang sudah begitu tua justru sangat takut menghadapi kematiannya? Sehingga harus mengorbankan nyawa orang lain sebagai tumbal? Tepat pada saat pikiran sang raja berkecamuk itu lah, momen penting tengah terjadi! Karena tiba-tiba, raja membatalkan niatnya untuk memngambil jantung sang bocah…hingga gegerlah para penghuni istana.
Para tabib mencoba meyakinkan raja, bahwa konsekuensi dari keputusannya itu adalah kematian. Akan tetapi raja tetap bersikukuh. Tiba-tiba sesuatu keanehan terjadi. Dengan melepaskan si bocah, mendadak penyakit raja menghilang begitu saja. Raja justru sembuh dan kembali pulih seperti sediakala. Dan sejak MOMEN itu, sikap raja berbalik 180 derajat dari sebelumnya sangat kejam dan semena-mena terhadap rakyatnya kini raja memerintah dengan arif dan bijaksana. Menurut cerita, raja tetap hidup bahagia dalam waktu yang sangat lama, dan ketika wafat, ia masuk surga.
Sepenggal kisah tadi mengilustrasikan betapa kuat peran suatu ”momen” dalam mengubah kehidupan seseorang. Serta betapa ”momen” yang demikian pendek (dalam kisah tadi, terjadi ketika pikiran raja berkecamuk dan akhirnya raja batal mengambil jantung si bocah), mampu merubah kehidupan seseorang secara fundamental dan revolusioner. Dalam kehidupan nyata pun, kisah-kisah serupa seringkali terjadi. Misalnya, bagaimana seseorang yang memulai dari Zero hingga berhasil dan menjadi Hero, disadari atau tidak, orang tersebut sebelumnya telah melewati sebuah momen penting, dimana seberkas cahaya ilham, inspirasi, enlightmen atau apapun namanya, telah masuk kedalam qalbunya hingga berbuah keputusan penting.
Lalu, apa itu momen?
10:06 AM   Posted by My Science in with No comments
Read More

Thursday, February 9, 2017

Ilustration
Ilustration


Seringkali kita tidak menyadari, bahwa kebiasaan menjadi faktor penting sukses atau tidaknya seseorang. Kebiasaan lahir dari pola pikir, yang kemudian tertuang dalam perilaku. Dalam lingkup yang lebih luas, kebiasaan bisa membentuk budaya sebuah masyarakat.
Dalam bukunya Culture Matters, Samuel Huntington menyebut bahwa secara umum, budaya bisa didefinisikan sebagai suatu sistem pengetahuan, gagasan, atau ide, yang dimiliki oleh suatu kelompok manusia, yang berfungsi sebagai pengarah bagi mereka yang menjadi warga kelompok itu dalam bersikap dan bertingkah laku.
Dalam konteks Negara, budaya merupakan sebuah penentu penting bagi kemampuan suatu Negara untuk makmur, karena budaya adalah pembentuk pola pikir warganya.
Pola perilaku manusia dalam masyarakat sangat ditentukan oleh kebudayaannya. Samuel Huntington menggambarkan bagaimana nilai – nilai budaya mempengaruhi kemajuan maupun kemunduran manusia.
Contoh yang paling populer adalah perbandingan antara Korea Selatan dan Ghana. Jadi, ceritanya gini, di tahun 1960-an Ghana dan Korea Selatan memiliki kondisi ekonomi yang kurang lebih sama. Tiga puluh tahun kemudian, Korea telah menjadi Negara maju, tetapi Ghana hampir tidak mengalami kemajuan apapun.
Saat ini GNP perkapita Ghana hanya seperlimabelas dari GNP Korea Selatan. Ini disebabkan karena bangsa Korea Selatan memiliki nilai – nilai budaya tertentu seperti hemat, kerja keras, ataupun disiplin, yang tidak dimiliki oleh masyarakat Ghana.
So, kesimpulannya, kalau misalnya Negara kita sampai sekarang belum jadi Negara yang maju, bisa jadi itu juga akibat kebiasan kebiasan jelek yang masih kita teruskan sampai sekarang.


1:45 PM   Posted by My Science in with No comments
Read More



Hampir selama hidupnya, hidup Pam Lontos dikendalikan oleh kata-kata negatif dari orang lain. Ketika masih dalam usia pertumbuhan orangtuanya sering melarangnya melakukan hal-hal yang beresiko. Seperti misalnya: “Jangan ke pantai, nanti bisa tenggelam” atau “Jangan berbelanja ke pusat kota, terlalu berbahaya.” Bahkan, ketika sudah menikahpun, suaminya menyuruh dia untuk berhenti belajar psikologi dan beralih belajar menjadi guru. Padahal, sebenarnya dia lebih menyukai bidang psikologi. Akhirnya, dia pindah kuliah juga ke bidang pengajaran. Meskipun setelah 3 tahun kemudian, Pam memilih keluar dari situ dan memutuskan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Harapannya, hal itu akan membuat hidupannya lebih bermakna.
Alhasil, Pam Lontos menghabiskan hari-harinya di sebuah rumah yang nyaman dengan dua anaknya dan seorang suami yang karirnya sukses. Akan tetapi anehnya, hal itu tidak membuatnya bahagia. Dia justru merasa dirinya kosong secara emosional, tidak berguna dan tidak memberikan kontribusi apapun. Semakin lama perasaan itu semakin menjadi-jadi dan dia semakin merasa tertekan dan depresi.
Banyak cara yang dipilih orang untuk menghadapi depresinya, dari mulai mengkonsumsi obat-obatan sampai lari ke minuman keras. Sedangkan Pam Lontos memilih untuk banyak-banyak tidur. Dia hanya bangun ketika mengantar anak-anak ke sekolah, lalu kembali ke rumah untuk tidur dengan pulas. Dengan demikian dia setidaknya bisa melupakan segala masalahnya. Pada waktu Pam berusia 34 tahun, dia tidur selama 18 jam perhari dan berat badannya naik menjadi sekitar 181 kg. Saat itu, depresinya sudah sedemikian parah. Harga diri, kepercayaan diri, dan alasannya untuk hidup, telah sirna. Setiap kali dia berada dalam kondisi terjada tidak tidur, dia selalu mempertimbangkan untuk bunuh diri.
Hingga suatu hari, sebuah kesadaran muncul. Jika seseorang berada dalam posisi ‘hidup segan, matipun tak mau.’ maka, satu-satunya pilihan yang tersisa adalah: berubah! Maka, langkah pertama yang diambil Pam Lontos adalah bergabung dengan sebuah klub kesehatan agar berat badannya tidak terus naik. Memang, keputusan yang diambil Pam itu tampak seolah sebuah langkah kecil, tapi begitu dia berjalan melewati pintu klub kesehatan, itu artinya dia tengah memasuki suatu kehidupan yang baru. Dimana pada saat itulah, dia bertemu dengan Jim, pemilik klub. Jim ini orang yang energik dan selalu bersikap positif. Tak heran, ketika Pam sempat menunjukkan keragu-raguannya, tanpa segan Jim membagi filosofi positifnya. Dia bilang ke Pam Lontos, “Jangan berkata bahwa anda tidak bisa melakukan sesuatu, sebelum anda benar-benar mencobanya!” Nah, kata-kata itulah yang kemudian menjadi pegangan Pam dalam menjalani hidup.
Ketika berat badan Pam berangsur-angsur mulai turun, bersamaan dengan itu juga rasa takut dan keragu-raguannya juga mulai hilang. Setelah beberapa bulan, dia menjadi cukup berani untuk bertanya pada dirinya sendiri, “Apa yang ingin saya lakukan?” Sebuah pertanyaan yang selama ini tidak berani dia tanyakan pada dirinya sendiri. Ketika pertanyaan itu muncul, ingatan masa remajanya kembali muncul. Saat remaja dulu, dia pernah menjual sepatu untuk membantu keluarganya. Kenapa tidak dicoba sekarang? Begitu pikirnya. Dengan menggeluti bidang penjualan, barangkali dia bisa menyumbangkan sesuatu. Dan karena dia mengalami kemajuan pesat bersama klub kesehatan milik Jim, maka Pam Lontos berpikir untuk memulainya dari sana.
Mulailah dia menemui Jim. Dia sadar, kalau tidak punya pengalaman dalam menjual kartu keanggotaan klub. Tapi dia cukup percaya diri untuk meminta pekerjaan itu dari Jim. Jim yang selalu bersikap positif itu, akhirnya memberikan pekerjaan. Dan dalam waktu yang sangat singkat, Pam berhasil mewujudkan keingannya. Semenjak itulah kepercayaan dirinya menjadi meningkat pesat.
Singkat cerita, setelah memasarkan kartu keanggotaan klub kesehatan, Pam kemudian beralih pekerjaan ke salah satu stasiun radio yang saat itu sedang membutuhkan tenaga pemasaran. Di perusahaan itu karirnyapun melesat dengan cepat. Setelah AE, dia naik posisi sebagai manajer penjualan. 2 tahun kemudian, dia dipromosikan menjadi wakil presiden penjualan. Ini luar biasa! Karena berarti dia melompati 2 level posisi sekaligus. Seharusnya, manajer penjualan dia ada di posisi general manager. 

4 tahun yang penuh keberhasilan di stasiun radio itu, tidak membuat Pam menetap. Dia memilih resign untuk memulai sesuatu yang baru lagi. Apa kira-kira bidang baru yang dipilih Pam? Pada akhirnya, kita mengenal Pam Lontoh sebagai pembicara motivasional, penulis dan konsultan penjualan dan pemasaran yang menginspirasi banyak orang. Kalau ada orang yang menyangsikan bahwa kita bisa mewujudkan impian kita, maka Pam Lontoh akan selalu menyarankan, “Anda tatap mata mereka dan katakan ke mereka: ‘Jangan katakan kepada saya bahwa ini mustahil diwujudkan, sebelum saya melakukannya.”
12:56 PM   Posted by My Science in with No comments
Read More

Wednesday, February 8, 2017



Eula Hall, seorang perempuan desa yang lahir pada tahun 1927 di Pike Country, Kentucky. Sebuah wilayah, dimana anak-anak meninggal karena kekurangan gizi dan orang-orang dewasa meninggal karena sakit yang tidak segera mendapat penanganan. Kematian-kematian ini terjadi karena penduduk di wilayah itu tidak punya tenaga medis (dokter) dan rumah sakit satupun. Bahkan, mereka tidak mempunyai dana medis sepeserpun. Eula sendiri telah melahirkan 5 anak, namun sedikitpun ia tak pernah mendapatkan perawatan pasca melahirkan dan semua bayinya dilahirkan di rumah.
Pada usia 18 tahun, Eula Hall bertekad keras untuk mendirikan klinik medis di desanya. Sedangkan, ia tak punya lisensi medis, tak pernah ikut pelatihan formal dalam politik atau hukum, tak pernah ikut kelas ilmu pengetahuan dan bahkan tidak menyelesaikan pendidikannya di kelas 8. Akan tetapi, gadis desa yang kotor dan miskin ini punya pekerjaan yang sangat dicintainya, yaitu meringankan penderitaan sesama di desanya, di pegunungan Appalachia, Kentucky.
Pekerjaannya itu, memberinya penghasilan sebesar $50 per-minggu. Sehingga untuk mendirikan klinik medis, Eula Hall menyisihkan penghasilannya sedikit demi sedikit untuk ditabung. Dan setelah berlangsung selama 7 tahun, akhirnya ia berhasil menyewa sebuah pondok kecil seharga $40 di sebuah jalan yang terpencil. Ia juga berusaha keras untuk mengumpulkan sumbangan dari berbagai pihak.
Apa yang dilakukannya itu, masih lebih mudah jika dibandingkan saat ia harus merekrut dokter yang bersedia bekerja di kliniknya. Bagi para dokter muda, pegunungan Appalachia bukanlah lokasi impian untuk meniti karir dan memperoleh penghasilan besar. Akhirnya, Eula merekrut staf medis dari sekumpulan dokter asing yang ingin mendapatkan green card. Tapi rupanya, para dokter yang semula tertarikpun, akhirnya banyak mundur karena mendapati kenyataan tak ada perumahan yang layak untuk mereka.
Meskipun melewati perjuangan yang berat, akhirnya klinik medis Eula Hall resmi dibuka. Dari hari pertama buka, mereka sudah kewalahan melayani pasien-pasien yang miskin. Mereka menderita sakit dari mulai jari yang hancur sampai paru-paru yang bocor. Banyak diantara mereka yang sebelumnya belum pernah bertemu dokter. Dan kebanyakan dari mereka, tidak mampu membayar biaya medis sebesar $5.
Klinik medis itu terus melayani pasien-pasien yang miskin, sampai suatu malam klinik itu mengalami kebakaran. Impian, pengorbanan dan hasil kerja keras Eula Hall selama ini, hancur dalam hitungan menit. Ia berdiri di depan reruntuhan yang masih menyala, sambil memikirkan nasib 15.000 warga yang menjadi tanggung-jawabnya. Ia terpuruk memikirkan persediaan obat dan peralatan medis yang menjadi abu. Untuk pertama kalinya, dalam sejarah hidupnya, ia menangis. Dengan terseok-seok ia mengumpulkan keberaniannya dan dengan suara serak dia berkata, “Bangunan ini memang sudah hancur, namun kita masih ada di sini!”
Malam itu, Eula Hall bertekad untuk tetap bekerja dan mencari cara untuk membangun kembali kliniknya. Keesokan harinya, klinik itu tetap menerima pasien di ruangan terbuka dengan sebuah telpon yang tergantung di pohon. Para pasien antri berbaris dan para staf mengobati pasien. Bersamaan dengan itu, Eula juga mengumpulkan dana dengan berbagai cara: pengumuman di radio, malam amal, bahkan juga berdiri di pinggir jalan sambil menenteng keranjang sumbangan. Dalam 3 bulan, ia berhasil mengumpulkan dana sebesar $102.000. Jumlah yang cukup untuk dipakai sebagai jaminan mendapatkan ijin federal dalam membangun sebuah klinik baru.
Meskipun ijin sudah di tangan, akan tetapi bangunan klinik belum berdiri. Jadi ia klinik itu masih berpindah-pindah. Ketika sebuah sekolah lokal tutup untuk musim panas, Eula memindahkan kliniknya ke sana. Pada musim gugur, ia memindahkan kliniknya ke sebuah trailer. Berat, tapi selangkah demi selangkah, satu dolar demi satu dollar, akhirnya sebuah klinik baru pun berdiri: Mud Creek Clinic. Sebuah klinik dengan peralatan modern dan parkiran aspal yang luas.
Mud Creek Clinic, merupakan satu-satunya klinik modern yang memungut bayaran semampu pasiennya. Orang-orang melakukan perjalanan melintasi pegunungan untuk menyuntikkan anak mereka, memeriksa tekanan darah mereka, atau mendapat resep untuk jantung mereka. Jika klinik itu tidak bisa membantu mereka, maka Eula akan mencari orang yang bisa membantu. Ia pernah berhasil membujuk Lions Club untuk membiayai operasi para pasien kanker yang miskin. Ia juga pernah berurusan dengan pengadilan demi membantu klaim cacat bagi orang-orang miskin. Ia juga mengumpulkan uang untuk membeli sebuah ambulans yang digunakan untuk mengirim makanan ke orang-orang yang tidak bisa keluar rumah karena sakit. Bahkan kalau diperlukan, ia menyetir sendiri ambulans itu untuk membawa pasien-pasien yang dalam keadaan kritis ke sebuah RS terdekat. Pernah suatu kali mobilnya terguling sampai bahunya patah, tapi keesokan harinya, dia tetap bekerja seperti biasa. Yang keren, meskipun Eula menderita arthritis dan sakit jantung, sekalipun ia tak pernah mau dirawat. Ia berkilah, “Bekerja keras, tidak akan membunuh manusia.”
Keberadaan Mud Creek Clinic dengan 17 staf, termasuk 2 dokter dan 7 ruang periksa yang diperlengkapi dengan peralatan yang baik membuat Eula Hall hidup dengan gaji sebesar $22.000 pertahun. Dia berada di klinik tersebut setiap hari dan belum pernah mengambil liburan selama 4 tahun. Seringkali klinik itu buka hinggai jauh malam. Ia menunggu pasien terakhir diperiksa dan diobati, sebelum akhirnya menutup kliniknya. Baru setelah yakin kalau pasien-pasiennya aman dan diperhatikan, Eula Hall pulang ke rumah untuk beristirahat.
  • Diambil dari buku “Unstoppable” karya Cynthia Kersey.
  • Ditulis kembali oleh Astin Soekanto
4:06 PM   Posted by My Science in with No comments
Read More
ibu
Ilustration


Sejak lahir, Bill Potter menderita kelumpuhan otak sehingga divonis seumur hidupnya ia tidak akan mampu bekerja. Pada saat sang ibu melahirkannya, dokter melakukan kesalahan dalam menggunakan alat vacuum, sehingga merusak sebagian syaraf otak sang bayi. Akibatnya kelak, cara berjalan anak tersebut menjadi terseok-seok (pincang) dengan tangan kanan terkulai tanpa daya. Begitu pula dengan bicaranya yang gagap dan tidak jelas.
Dengan keadaan fisik seperti itu, ada banyak hal yang Bill Potter tidak bisa melakukannya sendiri dan butuh bantuan ibunya. Misalnya, untuk memakai dasi, ibunyalah yang selalu membantu memakaikannya. Ibunyalah yang memasangkan kancing bajunya. Dan ibunya jugalah yang menyisiri rambutnya. Tak heran, hubungan sang ibu dengan anaknya begitu dekat dan sangat baik. Saat Mrs. Porter, ibunya, mendadani dan menyisir rambut Potter itulah, ia selalu berkata kepada anaknya: “Pasti orang-orang butuh waktu untuk mengenalmu.”

Singkat cerita, setelah Bill Potter banyak mengalami penolakan yang nyaris mematahkan harapannya, akhirnya ia berhasi menjadi seorang salesman di Portland yang menjual berbagai jenis sabun secara door-to-door. Meski sejak saat itu, setiap hari dia harus berjalan kaki tertatih-tatih menempuh jarak 20 kilometer perhari,tanpa pernah sedikitpun mengeluh. Dan karena bagian tubuhnya yang sebelah kiri tidak berfungsi sebagaimana orang normal, sebenarnya Bill Potter sangat sulit berjalan tegak dan berbicara dengan jelas.
Di hari pertama Bill Potter bekerja, Mrs. Porter menuliskan dua kata mujarab pada roti makan siang anaknya: ”patient and persistence.” (Sabar dan gigih)! Di hari pertama ia menjalankan tugas, sang mama mengantarnya dengan mobil sampai di sudut jalan. Rumah pertama yang akan dimasukinya, langsung ditinggalkan Bill Potter karena seekor anjing besar menunggunya di sana. Lalu rumah kedua, dibuka oleh pria setengah mabuk. Pria itu membanting pintu, begitu Potter mulai memperkenalkan dirinya. Dari dalam rumah terdengar seorang wanita bertanya “Siapa itu?” Lalu seorang pria yang dari dalam rumah tersebut menjawab: “Seperti pengemis.” Di rumah ketiga, Bill Potter belum sempat bicara. Begitu sampai pintu, si penghuni rumah tengah memulai pertengkaran dengan tetangganya akibat atap rumah yang rusak terkena pohon yang ambruk.
Tanpa mengenal putus asa, Bill Potter terus berjalan terhuyung-huyung memasuki rumah yang lain. Kali ini ia disambut oleh seorang wanita yang sedang meneriaki kedua anaknya. Salah satu anak itu langsung kabu, begitu melihat penampilan Bill Potter. Di rumah berikutnya ia masuk dan menjelaskan produk Watkins yang dijualnya. Sebenarnya, nyonya rumah menolak membeli namun dia mengatakan, “Saya menghargai usahamu.” Lalu dengan serta-merta ia menyodorkan sejumlah uang. Melihat sikap itu, seketika Bill Potter bangkit dari duduknya dan berkata, “Saya tidak membutuhkan belas kasihan. Tetapi Anda perlu pembersih untuk sofa Anda yang jorok!”
Akhirnya, si Nyonya yang bernama Ny. Sullivan itulah yang menjadi pembeli pertamanya. Dia membayar hampir 50 dolar untuk dua pemutih dan sabun. Bill Potter senang sekali. “Hari ini aku dapat komisi $ 4,25”, katanya sambil bersorak ketika ibunya menjemputnya sore itu. Sesampai di rumah, Ny. Potter bilang pada Bill, “Kamu memang seorang penjual. Ayahmu juga penjual yang berhasil. Dia berprofesi penjual selama 38 tahun, makanya Mama yakin kamu akan berhasil.”
Hari demi hari Bill terus konsisten menjalankan profesinya. Bahkan ketika syaraf tulang punggungnya bermasalah akibat terus menerus menjinjing tas berat, ia terus berjualan. Memang dokter menyuruhnya berhenti, tapi Bill menolak untuk menyerah.

Pada tahun 1989, Bill Potter berhasil meraih penghargaan sebagai penjual terbanyak dari perusahaan Watkins. Ia berhasil menjual produk Watkins sebanyak US $ 42.460 dalam setahun. Prestasinya ini, melampaui orang-orang muda yang yang berpenampilan normal. Di acara Watkins Annual Gathering, ia mempersembahkan penghargaan itu untuk kedua orangtuanya, “Saya senang menjadi penjual. Ayah saya dulunya juga seorang penjual; dan ibu saya mengajari kesabaran dan kegigihan. Dia takkan membiarkan saya menyerah.”
  • Diambil dari buku “Unstoppable” karya Cynthia Kersey.
  • Ditulis kembali oleh Astin Soekanto
2:23 PM   Posted by My Science in with No comments
Read More

Search