Wacana Keilmuan dan Keislaman
  • Civic Diary: Your IQ Is Not Everything

    Lewat bukunya Outliers, Malcolm Gladwell meneliti rahasia di balik orang-orang sukses. Menurut Gladwell, orang-orang berprestasi luar biasa alias outlier tidak muncul tiba-tiba. Modalnya juga bukan cuma IQ, bakat, ataupun kemampuan pribadi.
    Untuk menjadi outlier, mereka butuh dukungan lingkungan, mampu melihat dan memaksimalkan peluang, dan yang utama adalah kemauan untuk terus menempa diri.

  • Cerita Seorang Ibu yang Mengajari Arti Dari Sebuah Kesabaran Dan Kegigihan

    Di acara Watkins Annual Gathering, ia mempersembahkan penghargaan itu untuk kedua orangtuanya, “Saya senang menjadi penjual. Ayah saya dulunya juga seorang penjual; dan ibu saya mengajari kesabaran dan kegigihan. Dia takkan membiarkan saya menyerah.”

  • Pentingnya Ilmu Pengetahuan dalam Islam

    Manusia lahir ke dunia dilengkapi dengan seperangkat kemampuan internal, yakni rasa ingin tahu (curiousty) tentang sesuatu. Setelah sesuatu itu diperoleh, dengan akalnya manusia dapat memilah-milah sesuatu dengan jenis dari sesuatu itu.
    Dengan akal, manusia dapat melakukan observasi, penyelidikan, penelitian dan eksperimen untuk menemukan kebenaran, yang kemudian kebenaran ini terus dikembangkan menjadi teori.

Thursday, October 29, 2015


Segala puji bagi Allah, pencurah rahmat dan karunia. Rahmat-Nya tiada terbatas kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah. maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Kalimat yangbaik, nasihat yang benar, yang bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah dari perjalanan ulama Salafush Shalih, dan dari tingkah laku Ulama umat manusia yang mengamalkan.

Al-Qur’an dan sunnah merupakan dua pusaka Rasulullah SAW yang harsu selalu dirujuk oleh setiap muslim dalam segala aspek kehidupan. Satu dari sekian aspek kehidupan yang amat penting adalah pembentukan dan pengembangan karakter pribadi muslim. Pribadi muslim yang dikehendaki oleh Al-Qur’an dan As-sunnah adalah pribadi yang shaleh, pribadi yang sikap, ucapan dan tindakannya terwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari Allah SWT.

Qur’an Surat Al-Kahfi : 13
“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan kami tambahkan petunjuk kepada mereka...”

Qur’an Surat Al-Hujarat : 13
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu...”

Persepsi masyarakat tentang pribadi muslim memang berbeda-beda, bahkan banyak yang pemahamannya sempit sehingga seolah-olah pribadi muslim itu tercermin pada orang yang hanya rajin menjalankan islam dari aspek ubudiyah, padahal itu hanyalah salah satu aspek yang harus ada pada pribadi seorang muslim. Oleh karena itu standard pribadi muslim yang berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah merupakan sesuatu yang wajib dirumuskan, sehingga menjadi acuan bagi pembentukan pribadi muslim. Bila disederhanakan, sekurang-kurangnya ada sepuluh profil atau ciri khas yang mesti ada pada pribadi seorang muslim.

1.      Salimul Aqidah
Aqidah yang bersih (salimul aqidah) merupaka sesuatu yang sepatutnya ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah SWT dan dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kematapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaiamana firman-Nya yang artinya:

“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Allah Tuhan semesta Alam.” (Q.S. Al-an’am, 6:162)

Karena memiliki aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam da’wahnya kepada para sahabat di Makkah, Rasulullah SAW mengutamakan pembinaan aqidah, iman atau tauhid.

2.      Shahihul Ibadah
Ibadah yang benar (shahihul ibadah) merupakan salah satu perintah Rasul SAW yang penting, dalam satu haditsnya, beliau menyatakan: ‘Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.’ Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul SAW yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.

3.      Matinul Kholuq
   Akhlak yang kokoh (matinul Kholuq) atau akhlak yang mulia merupakan sikap dan prilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi d akhirat sehingga diabadikan oleh Allah di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman yang artinya:

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung.” (Q.S Al-Qalam, 68:4)

4.      Qowiyyul Jismi
Kekuatan jasmani (qowiyyul jismi) merupakan salah satu sis pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh ehingga dapat melaksanakan ajaran islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatau yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi, dan jangan sampai seorang muslim sering sakit. Karena kekuatan jasmani juga termasuk yang penting maka Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Mu’min yang kuat lebih aku cintai daripada mu’min yang lemah.” (HR. Muslim).

5.      Mutsaqqoful Fikri
Intelek dalam berfikir (mutsaqqoful fikri) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang penting. Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.” Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan.” Demikian Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir (Q.S 2:219).
Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkat intelektualitas seseorang sebagaimana firman-Nya yang artinya. Katakanlah: “samakah orang yang mengetahui dengan orang-orang yang berakal yang dapat menerima pelajaran. (Q.S 39:9)

6.      Mujahadul Linafsihi
     Berjuang melawan hawa nafsu (mujahadul linafsihi) merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim, karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Oleh karena itu hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada jaran islam, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran islam) (HR. Hakim).

7.      Harishun ‘ala Waqtihi
            Pandai menjaga waktu (harishun ‘ala Waqtihi) merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu itu sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT banyak bersumpah di dalam Al-Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan sebagainya.

8.   Munzhzhamun fi Syuunihi
           Teratur dalam suatu urusan (Munzhzhamun fu Syuunihi) termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al-Qur'an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dengan dilaksanakan dengan baik. ketika suatu urusan ditangani secara bersama-bersama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya.

9.   Qodirun 'alal Kassbi
            Memiliki kemampuan usaha sendiri atau juga yang disebut dengan kekuasaan (qodirun 'alal kasbi) merupakan ciri lain yang harus ada pada seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru boleh dilaksanakan bilakala seseorang memiliki kekuasaan, terutama dari segi dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Dalam kaitan menciptakan kekuasaan inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik, agar dengan keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rezeki dari Allah SWT, karena rizki yang telah Allah sediakan harus diambil dan mengambilnya memerlukan skill atau keterampilan.

10. Nafi' un Lighoirihi
         Bermanfaat bagi orang lain (Nafi'un Lighoirihi) merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaannya karena bermanfaat besar. Maka jangan sampai seorang muslim adanya tidak menggenapkan dan tidak adanya tidak mengganjilkan. Dalam kaitan inilah, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.(HR. Qudhy dari Jabir)

Demikian secara umum profil seorang muslim yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits, sesuatu yang perlu kita renungkan pada diri kita masing-masing.
7:51 PM   Posted by My Science in with No comments
Read More

Penyucian Hati dan Jiwa Menurut Islam

Islam mengakui bahwa pada dasarnya manusia lahir dalam keadaan suci, yakni suci dari segala kotoran dan dosa. Yang ada pada bayi yang lahir itu adalah fitrah, yakni potensi beriman, berislam dn berihsan kepada Allah dengan mentauhid-Nya. Oleh karena pengaruh kedua orangtuanya, serta lingkungannya, sesorang menjadi Yahudi, Nasrani dan Majusi, yang menyimpang dari tauhid, menyimpang dari Islam, Iman dan Ihsan. Pengaruh keluarga dan lingkungan yang tidak kondosif untuk iman, islam dan ihsan itu telah merusak fitrah seseorang, dan mengotori jiwa seseorang. Untuk itu, Rasulullah diutus untuk mengembalikan manusia pada fitrah, dan untuk mensucikan kembali jiwa manusia dari segala yang mengotori jiwanya. Seperti ayat dibawah ini pada Qur’an Surat Al-Jum’ah:2

“Dialah (allah) yang mengutus untuk seluruh bangsa seorang Rasul dari antara mereka untuk membacakan ayat-ayat kepada mereka, mentazkiyah mereka, dan mengajarkan Kitab dan Hikmah.” (QS.Al-Jum’ah:2)

Ayat diatas menunjukkan bahwa tazkiyatun nafs, merupakan salah satu misi semua nabi dan Rasul, khusus Rasulullah Muhammad SAW, disamping menyampaikan ajaran-ajaran Allah.


Makna dan Tujuan Tazkiyatun Nafs

Tazkiyatun Nafs berasal dari bahasa arab yang terdiri dari dua kata takiyah dan nafs. Secara kebahasaan tazkiyah berarti mensucikan, menguatkan dan mengembangkan. Sedangka nafs adalah diri atau jiwa seseorang. Dengan demikian tazkiyatu nafs mememiliki makna mensucikan, menguatkan dan mengembangkan jiwa sesuai dengan potensi dasarnya (fitrah), yakni potensi iman, islam dan ihsan kepada Allah.

Tazkiyatun Nafs bertujuan untuk mengembalikan manusia kepada fitrahnya, yakni fitrah tauhid, fitrah iman, yang disertai dengann upaya menguatkan dan mengembangkan potensi tersebuta agar setiap orang selalu dekat kepada Allah, menjalankan segala ajaran dan kehendak-Nya. Denga Tazkiyatun Nafs, seseorang dibawa kepada kualitas jiwa yang prima sebagai hamba Allah, sekaligus prima sebagai khalifah Allah. Artinya dengan tazkiyatun nafs, seseorang menjadi ahlul ibadah, yakni orang yang selalu taat beribadah kepada Allahdengan cara-cara yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya serta menjadi khalifah, yakni kecerdasan dalam misi memimpin, mengelola dan memakmurkan bumi dan seisinya sesuai dengan ketentuan-ketentuan agama Allah untuk kerahmatan bagi semua makhluk.


Aplikasi Tazkiyatun Nafs Menurut Al-Qur’an dan Sunnah

Dengan makna yang sudah diuraikan diatas, tazkiyatun nafs tidak sekadar bermakna penyucian jiwa dan sembarang penyucian jiwa dan sembarang penyucian jiwa menurut kehendak setiap orang. Maka cara-cara melakukan Tazkiyatun Nafs harus memenuhi apa yang telah dituntunkan oleh Allah dan Rasulullah. Tazkiyatun Nafs, meliputi aspek-aspek berikut:
1. Tazkiyatud Din (mensucikan agama), yakni mensucikan jiwa dengan menegakkan aqidah shahihah(aqidah yang benar), al-tauhid al-khalish (tauhid yang murni dan bersih), ibadah yang benar, muamalah yang memuliakan kemanusiaan dan akhlak yang karimah.
2.  Tazkiyatul mal (mensucikan harta), yakni mensucikan jiwa dengan membersihkan harta yang diperoleh, dengan memberikan sebagaian kepada orang yang membutuhkan.
3.   Tazkiyatul ‘Amal wal Akhlak, yakni penyusian amal perbuatan dan akhlak (perilaku dan budi pekerti) yakni dengan menjaga segala pikiran, perkataan dan perbuatan kita dengan acuan Al-Qur’an dan al-sunnah da menjaganya dari hal-hal yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Al-Qur’an.
4.    Tazkiyatul Afkar, yakni penyucian pemikiran dari cara adan pola poikir yang menyimpang dalama memahami agama, yang ujungnya adalah pandangan dan pengalaman agama yang menyimpang pula. Saat ini pemikiran-pemikiran sesat banyak menyerang dan menggerogoti pola pikir umat islam.

Dengan demikian tazkiyatun nafs adalah penyucian hati dan penyucian jiwa agar seseorang menjadi dekat kepada Allah, berada dalam bimbingan dan tuntunan-Nya, yang dilaksanakan dengan merujuk kepada ajaran agama-Nya yang bersumber dari Al-Qur’an dan al-sunnah. Tazkiyatun nafs tidak bisa dilakukan dengan semau gue, dan mengabaikan petunujuk illahi. Karena semua telah ditetap tata cara dan rambu-rambunya dalam risalah para nabi dan rasul Allah, maka tazkiyatun nafs adalah merupakan  salah satu misi kenabian dan kerasulan setiap Nabi dan Rasul, terutama Rasulullah Muahmmad SAW.


Pengaruh Tazkiyatun Nafs dalam Kehidupan

Apabila tazkiyatun nafs dilakukan dengan pemahaman, dan cara-cara implementasi yang telah disebut diatas, maka ia akan memberikan pengaruh positif terhadap kehidupan manusi, antara lain dalam hal-hal sebagai berikut:
1.   Dalam beragama, seseorang akan menjalankan agama dengan sepenuh hati, memandang segala perintah dan larangan yang datang dari Allah sebagai nikmat dan karunia-Nya yang paling agung.
2.   Dalam berharta, seseorang saiap untuk hidup sederhana, tidak boros, tidak bermewah-mewah, berjiwa solider terhadap penderitaan orang lain.
3.    Dalam Amal, sanggup memeliahara amal perbuatannya agar bermanfaat bagi dirinya, dan orang lain.
4.   Bersikap amanah, jujur dan disiplin dalam menjalani tugas-tugas kebajikan, baik dalam kontek habun minallah (hubungan horisontal kepada sesama manusia dan alam sekitar).

Demikian uraian singkat tentang tazkiyatun nafs berdasarkan pesan-pesan al-qur’an dan sunnah. Wallahu a’lam.
10:33 AM   Posted by My Science in with No comments
Read More


Manfaatkan Masa Mudamu Sebelum Tiba Masa Tuamu

Artikel ini mencoba menelaah kisah tentang pemuda-pemuda yang dipuji dan diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an, yang dapat menjadi rujukan bagi generasi muda sekarang maupun mendatang, karena heroisme (kepahlawanan) dalam mempertahankan keyakinan dan kebenaran hakiki. Kisah Ashabul Kahfi (Penghuni-Penghuni Gua) merupakan sebuah kisah nyata (true story) yang diceritakan Allah pada Rasulullah Muhammad dengan tujuan memberi gambaran (i’tibar) dan model percontohan (ushwah) adanya sekolompok pemuda yang memiliki keberanian luar biasa meninggalkan lingkungannya untuk berhijrah ke sebuah tempat (goa) yang lebih bersahabat demi suatu “keyakinan dan ketahidan”.

Peristiwa hijrah atau berpindahnya seseorang dari satu tempat (yang kurang kondusif) ke tempat lain (yang lebih kondusif) untuk suatu tujuan mulia (keluhuran sebuah cita-cita) merupakan sebuah keniscayaan. Apalagi perpindahan tersebut disertai oleh niat yang tulus, bersih, dan benar maka Allah akan memberi pertolongan, petunjuk, dan meneguhkan mereka dengan memberi tempat yang terbaik (lokasi yang sesuai dengan kebutuhan mereka).
Qur’an Surat Al-Kahfi, 18:13
“Kami kisahkan kepadamu (muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang berimankepada Tuhan Mereka, dan kami tambah pula untuk mereka petunjuk.”

Qur’an Surat Al-Kahfi, 18:14
“Dan kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.”

Qur’an Surat Al-Kahfi, 18:17
“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seseorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.”
Artinya sebagai seseorang pemuda, tidak ada alasan untuk merasa takut dan khawatir saat mengalami peristiwa atau pengalaman yang tidak menyenangkan, karena sebuah konsekuensi dalam menegakkan kebenaran, kebaikan, dan keadilan. Satu hal yang pasti bahwa Allah akan memandu pemuda-pemuda yang berjuang untuk meninggikan dan menegakkan kebesaran namaNya.

Mengapa Ashhabul Kahfi

Ilustrasi tentang kisah Ashhabul Kahfi ditampilkan sebagai contoh (modelling) dengan menunjukkan urgensi dan peran strategis pemuda untuk kemajuan dan kemaslahatan suatu masyarakat (Peradaban bangsa). Sosok pemuda dalam kajian psikologis memiliki arti penting, baik dari aspek tumbuh-kembang fisiologis yang dimiliki, maupun dari aspek psikososial dan spiritual. Oleh karena itu kajian kepemudaan tentang Ashhabul Kahfi relevan dengan kondisi sosial masyarakat dewasa ini.
Secara fisiologis pemuda Al-Kahfi merupakan sekelompok individu yang memiliki kematangan dan kesehatan fisik yang optimal. Hal ini dapat dilihat dari kesiapan fisik saat melarikan diri. Secara Psikososial pemuda Al-Kahfi menunjukkan kualitas kepribadian yang tangguh dan resilien.

Menurut Anganthi (2006) ketangguhan adalah kemampuan dalam menghadapi peristiwa-peristiwa yang negatif, seperti kesedihan, kemalangan maupun ketidakberuntungan. Adapun resiliensi kemampuan dalam beradaptasi dengan kesulitan-kesulitan, tekanan-tekanan maupun krisis kehidupan dengan cara-cara yang benar, baik dan konstruktif, sehingga mencapai keberhasilan hidup.
Kepribadian Tangguh ditandai oleh : (1) kemampuan menghadap dan menghargai kesedihan dan kemalangan. (2) memiliki ketrampilan untuk berempati terhadap orang lain. (3) berpikir untuk menghasilkan sesuat yang terbaik. (4) kemampuan mengubah kemalangan menjadi keberuntungan. (5) memiliki keuletan, ketabahan, sense of humor, perasaan gembira dan merdeka.
Kepribadian Resiliensi ditandai oleh : (1) Kompetensi sosial (2) Kemampuan pemecahan masalah. (3) Kemadirian dan independensi. (4) Keyakinan terhadap masa depan.

Ketangguhan dan Resiliensi merupakan karakteristik dari kepribadian unggul yang hanya dimiliki oleh pemuda-pemuda yang melatih dirisecara didiplin dengan pertolongan dan bimbingan Allah ta’ala. Perbedaan antara Ketangguhan dan Resiliensi terletak pada (1) sikap yang ditunjukkan. (2) hasil yang diperoleh. Hasil dari kepribadian tangguh adalah daya juang (etos kerja) dalam menyelesaikan tugas-tugas. Adapun kepribadian Resiliensi akan menghasilkan keberhasilan dalam mencapai suatu tujuan (Motivasi Prestatif). Kesamaan antara kepribadian tangguh dan resiliensi terletak pada (1) semangat serta optimisme dalam menjalani hidup. (2) Kemampuan untuk bangkit (tidak mudah menyerah) saat mengalami kegagalan yang dialami.

Siapa Ashhabul Kahfi

Identitas dan latar belakang keberadaan pemuda-pemuda Al-kahfi secara eksplisit tidak diinformasika dalam Al-Quran. Namun demikian banyak riwayat dan kisah yang mendeskripsikan mereka sebagai sekelompok pemuda (ada yang lajang dan ada juga yang sudah berkeluarga), berjumlah ganjil kurang dari 10 orang, untuk menegakkan keyakinan dan ketauhidan terhadap Allah ta’ala, hanya ditemani oleh seekor anjing. Riwayat ini sesuai dengan penjelasan dalam Al-Quran:

Meskipun informasi yang diberikan Allah tentang pemuda Al-kahfi hanya sedikit, namun sesungguhnya dapat ditarik suatu pelajaran yang berkenaan dengan mereka, yaitu (1) taraf perkembangan pemuda Al-kahfi berada pada tahap remaja hingga dewasa, (2) pemuda Al-kahfi merupakan sekelompok pertemanan, (3) Pemuda Al-kahfi merupakan penyayang binatang, (4) Pemuda Al-kahfi memiliki kebersamaan dalam cita-cita (5) Pemuda Al-Kahfi memiliki sikap progresif, (6) pemuda Al-kahfi merupakan seorang pemkir.

Psikologi Ashhabul Kahfi

Pemuda Al kahfi dalam tinjauan psikologis berada pada taraf perkembangan remaja-dewasa. Perspektif psikologis perkembangan menjelaskan adanya kekhasaan pada diri remaja, antara lain: (1) secara fisik (fisiologis) telah mencapai kematangan, (2) secara mental-emosi (psikologis) masih labil, (3) secara kekerabatan (sosial) membutuhkan dukungan dan pengakuan, (4) secara rohani (spiritual) memasuki tahap pencarian keyakinan yang rasional dan relistis.

Deskripsi tentang keberadaan pemuda al-kahfi dalam perspektif psikologi tersebut,dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.    Pemuda Al kahfi sebagaimana remaja lain, sudah mencapai kematangan fisiologis.
2.    Pemuda Al kahfi sebagaimana remaja lain secara mental masih menujukkan labilitas emosi
3.    Pemuda Al kahfi sebagaimana remaja lain, secara sosial membutuhkan dukungan kelompok
4.    Pemuda Al Kahfi sebagaiman remaja lain, secara rohani mulai mencari pembuktian terhadap nilai-nilai keyakinan yang mereka miliki.

Relevansi Ashabul Al Kahfi

Berpijak dari kisah Ashabul Al Kahfi diatas, sesungguhnya siapakah yang disebut pemuda itu.? Apakah pemuda selalu dikaitkan dengan usia perkembangan tertentu.? Jawaban atas persoalan tersebut daoat dijelaskan melalui hadits Rasulullah yang mengingatkan agar generasi muda memanfaatkan masa mudanya sebelum tiba masa tuanya dengan implikasi sebagai berikut:
1.      Kematangan Fisiologis, terutama perkembagan psikoseksual.
Artinya pemuda di masa kini memiliki tantangan besar dalam menyalurkan dorongan psikoseksual yang positif dan sehat, karena stimulasi untuk pemenuhan kebutuhan psikoseksual muncul dari berbagai arah melalui beragam media.
2.      Labilitas Psikologis, terutama perkembangan mental-emosional.
Artinya pemuda perlu berupaya untuk mengatasi labilitas emosi pada dirinya melalui keberanian untuk bersikap mandiri dan independent, baik secara emosi maupun sosial.
3.      Kebutuhan sosial, terutama relasi sosial dengan kelompok sebaya.
Artinya pemuda perlu berupaya untuk mengoptimalkan kebutuhan mengembangkan relasi interpersonal melalui pertemanan, baik terhadap sesama jenis kelamin maupun dengan lawan jenis.
4.    Kebimbangan spiritual, terutama pencarian keberadaan Tuhan. Artinya pemuda perlu mengatasi kebimbangan spiritual iyang dialami melalui upaya mencari jawaban atas problem personal maupun kemasyarakatan dengan penjelasan rasional dari agama.
10:25 AM   Posted by My Science in with No comments
Read More

Wednesday, October 28, 2015



Sebelum kita membicarakan istilah pakaian dalam al-Qur’an, perlu diperjelas dahulu apa itu Pakaian.? Pakaian secara sederhana dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang kita pakai mulai dari kepala sampai ujung kaki, termasuk:
  • Semua benda yang melekat di badan, seperti baju, celana, sarung, dan kain panjang.
  • Semua benda yang melengkapi pakaian dan berguna bagi si pemakai, seperti selendang, dasi, topi, sarung tangan, kaos kaki, sepatu, tas, dan ikat pinggang.
  • Semua benda yang gunanya menambah keindahan bagi si pemakai, seperti hiasan rambut, giwang, kalung, bros dan gelang

Namun pakaian yang kita maksud dalam tulisan ini adalah sesuatu yang melekat dalam badan yang berfungsi menutup aurat, baik laki-laki maupun perempuan.
Al-Qur’an tatkala menyebut istilah pakaian menggunakan beberapa kata, yakni libas atau labus artinya segala sesuatu yang menutup tubuh. Kata ini tercantum dalam kata delapan ayat. Kemudian tsiyab, disebutkan sebanyak delapan kali tersebar dalam tujuh ayat; dan sarabil tercantum sebanyak tiga kali tersebar dalam dua ayat.
Kalau suatu kata diulang-ulang baik dalam satu rangkaian dalam satu ayat maupun disebutkan dalam ayat yang lain, itu menunjukkan begitu penting kata tersebut untuk diperhatikan dan diamalkan . maka supaya lebih memudahkan memahamai ayat-ayat tersebut dalam konteksnya, perlu ditulis beserta terjemahannya, yakni sebagai berikut:
1.      Libas
  • Qur’an Surat Al-Baqoroh : 187
“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa bercampur dengan istri-istrimu, mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka”.

2.      Labus
  • Qur’an Al-Anbiya : 80
“Dan telah kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu; maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah)”.

3.      Tsiyab
  • Qur’an Surat Hud : 5
Ingatlah, sesungguhnya (orang munafik itu) memalingkan dada mereka untuk menyembunyikan diri daripadanya (muhammad). Ingatlah, di waktu mereka menyelimuti dirinya dengan kain (pakaian). Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan, dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.”

4.      Sarabil 

  • Qur'an Surat Ibrahim : 50
"Pakaian mereka adalah dari pelangkin (ter) dan muka mereka ditutup oleh api neraka."

Kata libas, labus, tsiyab, dan sarabil yang tercantum dalam berbagai ayat di atas mengandung banyak arti, baik arti hakiki maupun majazi atau kiasan sebagai berikut:
  • Istri sebagai pakaian suami, dan suami merupakan pakaian bagi istrinya. Karenanya, istri/ suami boleh memakai sesuka hatinya, dengan tetap berpedoman pada etika. Dan tatkala pakaian itu akan dipakai tidak boleh menolak, kecuali memiliki alasan yang kuat.
  • Pakaian adalah untuk menutupi aurat, dan tatkala orang memakai pakaian akan kelihatan indah, lebih-lebih kalau bahan dan corak warna pakaian disesuaikan dengan bentuk badan, warna kulit dan tempat.
  • Memperlihatkan aurat merupakan perbuatan setan. Kehancuran martabat seseorang karena dengan mudahnya mempertontonkan auratnya kepada orang lain yang tidak berhak untuk melihat.
  • Pakaian sutera yang halus dan tebal akan diberikan kepada penghuni surga, sementara orang-orang kafir pakaiannya terbuat dari api neraka.
  • Adanya siang dan malam merupakan pakaian manusia, malam dipakai untuk istirahat, sedangkan siang dipakai untuk berkarya, bekerja dan melakukan aktivitas lainnya.
11:45 AM   Posted by My Science in with No comments
Read More

Tuesday, October 27, 2015



Trend pakaian muslim dan muslimah tampak semakin marak, tidak hanya dalam pertemuan-pertemuan khusus yang bernuansa religius, misalnya pengajian, melainkan juga dalam acara ulang tahun, pernikahan, arisan, dan acara resepsi lainnya. Remaja muslim, pelajar, mahasiswa, ibu-ibu dan bapak-bapak dengan suka ria dan percaya diri memakainya dalam setiap kali menghadiri acara desain, mode dan warna kain yang harmonis.
Di pagi hari kalau kita berada di pinggir jalan, kita saksikan hilir mudiknya para pelajar dan mahasiswa berangkat ke sekolah, serta pegawai berangkat ke kantor tempat kerjanya, dengan menggunakan pakaian muslim ataupun muslimah. Bahkan tidak sedikit perusahaan yang sudah memberikan apresiasi terhadap karyawan-karyawati, khususnya bagi karyawati untuk memakai busana muslimah dalam bekerja, sehingga setiap pergantian jam kerja perusahaan mudah menemukan karyawati yang memakai busana muslimah. Begitu juga di instansi pemerintah , menunjukkan hal yang sama.
Perkembangan jumlah pemakai busana muslimah di kampus-kampus, baik negeri maupun swasta juga menunjukkan peningkatan yang luar biasa. Hal ini dapat dijumpai di ruang kelas, perpustakaan, kantin, dan dijalan disekitar kampus. Dari tahun ke tahun jumlah jumlah mahasiswa yang memakai busana muslimah semakin meningkat. Tidak hanya mahasiswi, ternyata dosen dan karyawati juga menunjukkan hal yang sama. Namun kadang masih ada yang dalam berpakaian belum memenuhi standar syar’i, misalnya:
  • ·         Pakaian yang dikenakan sangat ketat sehingga lekuk-lekuk tubuhnya kelihatan.
  • ·         Bahan (kain)nya tembus pandang (transparan)
  • ·         Bajunya dimasukkan ke celana panjang atau pakaian bawahan.
  • ·         Bajunya hanya sampai di atas pantat, dan lain sebagainya.

Melihat tidak terpenuhinya standar berpakaian yang sesuai dengan syariat agama islam, maka perlu disusun tuntunan dalam berpakaian yang sesuai dengan syariat agama. Semua itu dengan maksud supaya dalam berislam (menyerahkan diri kepada Allah) tidak setengah-setengah, melainkan keseluruhan. Hal ini selaras dengan firma allah berikut ini:

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu” 
(Q.S. Al-Baqoroh 208)

Semakin banyaknya wanita memakai busana muslimah, menandakan ada kesadaran beragama yang meningkat. Ajaran-ajaran agama dipercaya mampu membawa umatnya ke arah yang lebih baik, dan diyakini bahwa berbusana muslimah merupakan bentuk ibadah, karena melaksanakan perintah Allah.
Semua perintah allah apabila dilaksanakan sepenu hati akan membawa kebaikan bagi yang melaksanakan maupun lingkungan sosialnya. Munculnya pelecehan terhadap wanita, antara lain disebabkan wanita idak melaksanakan perintah Allah dalam hal berpakaian, terlalu murah menjual auratnya untuk dilihat laki-laki.

Berbusana muslimah juga bentuk pengalaman akhlak terhadap dirinya sendiri, menghargai dan menghormati harkat dan martabat dirinya sendiri sebagai manusia yang berbudaya. Kita diingatkan dengan pepatah jawa, “ajining diri soko lati, ajining raga saka busana” (berharga dan terhormatnya seseorang terletak pada lidahnya, serta berharga dan terhormatnya badan jasmani terletak pada pakaian yang dikenakan).

2:28 PM   Posted by My Science in with No comments
Read More

Thursday, June 23, 2011



Wujud – wujud peradaban itu sendiri ada 5, beberapa diantaranya ada nilai, moral, norma, etika, dan estetika. Dari masing – masing wujud peradaban tersebut akan diulas secara jelas dalam pembahasan sebagai berikut ini:
  1. Nilai
         Nilai adalah sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas, dan berguna bagi manusia. Sesuatu itu bernilai berarti sesuatu itu berharga atau berguna bagi kehidupan manusia. Adanya dua macam nilai tersebut sejalan dengan penegasan pancasila sebagai ideologi terbuka.
Sifat – sifat nilai menurut bambang daroeso (1986) adalah sebagai berikut:
    • Nilai itu suatu realitas abstrak dan ada dalam kehidupan manusia. Nilai yang bersifat abstrak tidak dapat diindra. Hal yang dapat diamati hanyalah obyek yang bernilai itu. Misalnya, orang yang memiliki kejujuran. Kejujuran adalah nilai, tetapi kita tidak bisa mengindra kejujuran itu.
    • Nilai memiliki sifat normative, artinya nilai mengandung harapan, cita – cita, dan suatu keharusan sehingga nilai memiliki sifat ideal (das sollen). Misalnya, nilai keadila. Semua orang berharap untuk mendapatkan dan berperilaku yang mencerminkan nilai keadilan.
    • Nilai berfungsi sebagai daya dorong/motivator dan manusia adalah pendukung nilai. Manusia bertindak didorong oleh nilai yang diyakininya. Misalnya, nilai ketakwaan. Adanya nilai ini menjadikan semua orang terdorong untuk bisa mencapai derajat ketakwaan.
Berdasarkan klasifikasi diatas, kita dapat memberikan contoh dalam kehidupan. Jika seorang siswa dapat menjawab suatu pertanyaan, ia benar secara logika. Apabila ia keliru dalam menjawab, kita katakan salah. Kita tidak bisa mengatakan siswa itu buruk karena jawabannya salah. Buruk adalah nilai moral sehingga bukan pada tempatnya mengatakan demikian. Notonegoro dalam Kaelan (2000) menyebutkan adanya 3 macam nilai. Ketiga nilai itu adalah sebagai berikut:
  1. Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi kehidupan jasmani manusia atau kebutuhan ragawi manusia.
  2. Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan atau aktvitas.
  3. Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia. Nilai kerohanian meliputi:
      • Nilai kebenaran yang bersumber pada akal (rasio, budi, cipta) manusia.
      • Nilai keindahan atau nilai estetis yang bersumber pada unsure perasaan (emotion) manusia.
      • Nilai kebaikan atau nilai moral yang bersumber pada unsure kehendak (karsa will) manusia.
      • Nilai religious yang merupakan nilai kerohanian tertinggi dan mutlak serta bersumber pada kepercayaan atau keyakinan manusia.

2. Moral
          Moral berasal dari bahasa latin mores yang berarti adat kebiasaan. Kata mores ini mempunyai sinonim mos, moris, manner more atau manners, morals. Dalam bahasa Indonesia, kata moral berarti akhlak (bahasa arab) atau kesusilaan yang mengandung makna tata tertib batin atau tata tertib hati nurani yang menjadi pembimbing tingkah laku batin dalam hidup. Kata moral ini dalam bahasa yunani sama dengan ethos yang menjadi etika. Secara etimologis, etika adalah ajaran tentang baik buruk yang diterima masyarakat umum tentang sikap, perbuatan, kewajiban, dan sebagainya. Contoh nilai adalah keindahan, keadilan, kemanusiaan, kesejahteraan, kearifan, keagungan, dan sebagainya. Dalam kehidupan ini banyak sekali nilai yang melingkupi kita. Nilai beraga dapat diklasifikasikan kedalam macam atau jenis-jenis nilai. Prof. Drs. Notonegoro, S.H. menyatakan nilai terdiri dari;
  1. Nilai materiil, yaitu sesuatu yang berguna bagi jasmani manusia.
  2. Nilai vital, sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat melaksanakan kegiatan.
        Dari beberapa pendapat di atas, istilah moral dapat dipersamakan dengan istilah etika, etik, akhlak, kesusilaan, dan budi pekerti. Dalam hubungannya dengan nilai, moral adalah bagian dari nilai, yaitu nilai moral. Tidak semua nilai adalah nilai moral. Nilai moral berkaitan dengan perilaku manusia (human) tentang hal baik dan buruk. Dalam filsafat nilai secara sederhana dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu;
    • Nilai logika, yaitu nilai tentang benar salah.
    • Nilai etika, yaitu nilai tentang baik buruk.
    • Nilai estetika, yaitu nilai tentang indah jelek.
           Nilai etik atau etika adalah nilai tentang baik buruk yang berkaitan dengan perilaku manusia. Jadi, kalau kita mengatakan etika orang itu buruk, bukan berarti wajahnya buruk, tetapi menunjuk perilaku orang itu yang buruk. Nilai etika adalah nilai norma. Jadi, moral yang dimaksud adalah nilai moral sebagai bagian dari nilai.
3. Norma
    Norma adalah aturan yang berlaku di kehidupan bermasyarakat. Aturan yang bertujuan untuk mencapai kehidupan masyarakat yang aman, tertib dan sentosa. Namun masih ada segelintir orang yang masih melanggar norma-norma dalam masyarakat, itu dikarenakan beberapa factor, diantaranya adalah factor pendidikan, ekonomi dan lain-lain. 
Norma terdiri dari beberapa macam/jenis, antara lain yaitu;
    • Norma agama, Adalah suatu norma yang berdasarkan ajaran aqidah suatu agama. Norma ini bersifat mutlak yang mengharuskan ketaatan para penganutnya.
    • Norma kesusilaan, Norma ini didasarkan pada hati nurani atau akhlak manusia. Melakukan pelecehan seksual adalah salah satu dari pelanggaran dari norma kesusilaan.
    • Norma kesopanan, Adalah norma yang berpangkal dari aturan tingkah laku yang berlaku di masyarakat. Cara berpakaian dan bersikap adalah beberapa contoh dari norma kesopanan.
    • Norma kebiasaan (habit), Norma ini merupakan hasil dari perbuatan yang dilakukan secara berulang-ulang dalam bentuk yang sama sehingga menjadi kebiasaan.
    • Norma hokum, Adalah himpunan petunjuk hidup atau perintah dan larangan yang mengatur tata tertib dalam suatu masyarakat (Negara). Sangsi norma hokum bersifat mengikat dan memaksa.
4. Etika
        Etika (etimologi), berasal dari bahasa yunani adalah “ethos”, yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika biasanya berkaitan erat dengan perkataan moral yang merupakan istilah dari bahasa latin, yaitu “Mos” dan dalam bentuk jamaknya “mores”, yang berarti juga adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan), dan menghindari hal-hal tindakan yang buruk. Etika dan moral lebih kurang sama pengertiannya, tetapi dalam kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan, yaitu moral atau moralitas untuk penilaian perbuatan yang dilakukan, sedangkan etika adalah untuk pengkajian system nilai yang berlaku.
Istilah lain yang identik dengan etika, yaitu: usila (sanskerta), lebih menunjukkan kepada dasar-dasar, prinsip, aturan hidup (sila) yang lebih baik (su). Dan yang kedua adalah akhlak (arab), berarti moral, dan etika berarti ilmu akhlak. Perkataan etika atau lazim juga disebut etik, berasal dari kata yunani “ETHOS” yang berarti norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik, seperti yang dirumuskan oleh beberapa ahli sebagai berkut;
  1. Drs, O.P. SIMORANGKIR, Etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam berprilaku menurut ukuran dan nilai yang baik.
  2. Drs. Sidi Gajalba, Dalam sistematika filsafat : etika adalah teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentuka oleh akal.
  3. Drs. H. Burhanudin salam, Etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan prilaku manusia dalam hidupnya.
Filsuf aristoteles, dalam bukunya Etika Nikomacheia, menjelaskan tentang pembahasan Etika, diantaranya adalah:
  1. Terminius Techicus, Pengertian etika dalam hal ini adalah, etika dipelajari untuk ilmu pengetahuan yang mempelajari masalah perbuatan atau tindakan manusia.
  2. Manner dan Custom, Membahas etika yang berkaitan dengan tata cara dan kebiasaan (adat) yang melekat dalam kodrat manusia (In herent in human nature) yang terikat dengan pengertian “baik dan buruk”suatu tingkah laku atau perbuatan manusia.
Pengertian dan definisi etika dari para filsuf atau ahli berbeda dalam pokok perhatiannya antara lain;
    • Merupakan prinsip-prinsip moral yang termasuk ilmu tentang kebaikan dan sifat dari hak (the principles of morality, including the science of good and the nature of the right)
    • Pedoman perilaku, yang diakui berkaitan dengan memperhatikan bagian utama dari kegiatan manusia. (the rules of conduct, recognize in respect to a particular class of a human action)
    • Ilmu watak manusia yang ideal, dan prinsip-prinsip moral sebagai individual. (the science of human character in its ideal state, and moral principles as of an individual)
Dalam membahas etika sebagai ilmu yang menyelidiki tentang tanggapan kesusilaan atau etis, yaitu sama halnya dengan berbicara moral (mores). Termasuk didalamnya membahas nilai-nilai atau norma-norma yang dikaitkan dengan etika, terdapat dua macam etika, yaitu:
  1. Etika Deskriptif, Etika yang menelaah secara kritis dan rasional tentang sikap dan perilaku manusia, serta apa yang dikejar oleh setiap orang dalam hidupnya sebagai sesuatu yang bernilai. Dapat disimpulkan bahwa tentang kenyataan dalam penghayatan nilai atau tanpan nilai dalam suatu masyarakat yang dikaitkan dengan kondisi tertentu memungkinkan manusia dapat bertindak secara etis.
  2. Etika Normatif, Etika yang menetapkan berbagai sikap dan perilaku yang ideal dan seharusnya dimilki oleh manusia atau apa yang seharusnya dijalankan oleh manusia. Jadi etika normative merupakan norma yang dapat menuntun agar manusia bertindak secara baik dan menghindarkan hal yang buruk, sesuai dengan kaidah atau norma yang disepakati dan berlaku di masyarakat
5. Estetika
     Estetika (sthetics 忙 juga dieja atau estetika) adalah cabang filsafat yang berhubungan dengan sifat keindahan seni, rasa, penciptaan dan apresiasi terhadap keindahan. Sedangkan etimologi itu sendiri berasal dari bahasa yunani (aisthetikos, yang berarti “estetis, sensitive, makhluk”). Istilah estetika adalah disesuaikan dan diciptakan dengan makna baru dalam bentuk jerman sthetik (ejaan modern sthetik) oleh Alexander Baumgarten pada tahun 1735. 
      Kata estetika berasal dari kata yunani aesthesis yang berarti perasaan, selera perasaan atau taste. Dalam prosesnya munro mengatakan bahwa estetika adalah cara merespon terhadap stimuli, terutama lewat persepsi indera, tetapi juga dikaitkan dengan proses kejiwaan, seperti asosiasi, pemahaman, imajinasi, dan emosi. Ilmu estetika adalah suatu ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan keindahan, mempelajari semua aspek dari apa yang kita sebut keindahan. Estetika adalah hal yang mempelajari kualitas keindahan dari obyek, maupunh daya impuls dan pengalaman estetik pencipta dan pengamatnya.
4:24 PM   Posted by My Science in with 2 comments
Read More

Thursday, June 16, 2011


Pengertian Adab dan Peradaban

      Istilah peradaban dalam bahasa Inggris disebut Civilization. Istilah peradaban sering dipakai untuk menunjukkan pendapat dan penilaian kita terhadap perkembangan kebudayaan. Pada waktu perkembangan kebudayaan mencapai puncaknya berwujud unsur-unsur budaya yang bersifat halus, indah, tinggi, sopan, luhur dan sebagainya, maka masyarakat pemilik kebudayaan tersebut dikatakan telah memiliki peradaban yang tinggi. 
Dengan batasan-batasan pengertian di atas maka istilah peradaban sering dipakai untuk hasil-hasil kebudayaan seperti: kesenian, ilmu pengetahuan dan teknologi, adat sopan santun serta pergaulan. Selain itu juga kepandaian menulis, organisasi bernegara serta masyarakat kota yang maju dan kompleks.

  • Huntington mendefinisikan peradaban sebagai the highest social grouping of people and the broadest level of cultural identity people have short of that which distinguish humans from other species. 
  • Damono, 2001 menyatakan Adab berarti akhlak atau kesopanan dan kehalusan budi pekerti.
  • Fairchild, 1980:41, menyatakan peradaban adalah perkembangan kebudayaan yang telah mencapai tingkat tertentu yang diperoleh manusia pendukungnya.
  • Kontjaranigrat (1990 : 182) menyatakan peradaban untuk menyebut bagian dan unsur kebudayaan yang halus, maju, dan indah seperti misalnya kesenian, ilmu pengetahuan, adat sopan santun pergaulan, kepandaian menulis, organisasi kenegaraan, kebudayaan yang mempunyai system teknologi dan masyarakat kota yang maju dan kompleks.
  • Ibnu Khaldun (1332-1406 M) melihat peradaban sebagai organisasi sosial manusia, kelanjutan dari proses tamaddun (semacam urbanisasi), lewat ashabiyah (group feeling), merupakan keseluruhan kompleksitas produk pikiran kelompok manusia yang mengatasi negara, ras, suku, atau agama, yang membedakannya dari yang lain, tetapi tidak monolitik dengan sendirinya. Pendekatan terhadap peradaban bisa dilakukan dengan menggunakan organisasi sosial, kebudayaan, cara berkehidupan yang sudah maju, termasuk system IPTEK dan pemerintahannya.

Tinggi rendahnya peradaban suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh faktor Pendidikan serta Kemajuan teknologi dan Ilmu pengetahuan.

Wujud Peradaban Moral :

  1. Nilai-nilai dalam masyarakat dalam hubungannya dengan kesusilaan.
  2. Norma : aturan, ukuran, atau pedoman yang dipergunakan dalam menentukan sesuatu benar atau salah, baik atau buruk.
  3. Etika : nilai-nilai dan norma moral tentang apa yang baik dan buruk yang menjadi pegangan dalam megatur tingkah laku manusia. Bisa juga diartikan sebagai etiket, sopan santun.
  4. Estetika : berhubungan dengan segala sesuatu yang tercakup dalam keindahan, mencakup kesatuan (unity), keselarasan (balance), dan kebalikan (contrast).

      Evolusi Budaya dan tahapan Peradaban Newel Le Roy Sims ( H P Fairchild : 1964 : 41) menyatakan Civilization is the cultural development, the distinctly human attributes and attainments of a particular society. In ordinary usage, the term imolies a fairly high stage on the culture evolutionary scale. Reference is made to ‘civilized peoples’. More civilized usage would refer to more highly and less highly civilized peoples, the refer to more highly and less highly civilized peoples, the determinative characteristic being intellectual, aesthetic technological, and spiritual attainments.

  • The Third Wave Alvin Tofler (1981 : 10-14)
    • Gelombang pertama sebagai tahap peradaban pertanian, dimana dimulai kehidupan baru dari budaya meramu ke bercocok tanam. ( revolusi agraris)
    • Gelombang kedua sebagai tahap peradaban industri penemuan mesin uap, energi listrik, mesin untuk mobil dan pesawat terbang. (revolusi industri)
    • Gelombang ketiga sebagai tahap peradaban informasi. Penemuan TI dan komunikasi dengan computer atau alat komunikasi digital.

Peradaban dan Perubahan Sosial

Tradisi merupakan adat kebiasaan turun temurun yang masih dijalankan di masyarakat karena adanya penilaian bahwa cara-cara yang telah ada merupakan cara yang paling baik dan benar.
  • Moderenisasi
    • Profs Koentjaraningrat (1990:140-141) menyatakan modernisasi adalah usaha untuk hidup sesuai dengan zaman dan konstelasi dunia sekarang.
    • Anthony D Smith (1973:62) menyatakan modernisasi bukan semata-mata proses yang spontan dan tanpa perencanaan. ‘modernization then is a conscious set of plant and policies for changing a particular society in the direction of contemporary societies which the leaders think are more ‘advanced’ in certain respect’.
  • Masyarakat Madani
    • Dari penerjemahan kata ‘Civil society’ dikenal di Indonesia sebagai masyarakat sipil, masyarakat warga, masyarakat madani, atau masyarakat adab (Wirutomo,2002).
   Penekanan konsep ini lebih kepada hubungan antara pemerintah dan rakyat, Negara dan masyarakat. Apapun bentuk tindakannya yang pasti konsep itu menyangkut suatu ruang gerak masyarakat yang berada diluar Negara. Disinilah warga negara dapat terus menerus mengembangkan kemandirian diluar institusi Negara yang nantinya merupakan landasan bagi terwujudnya pranata politik formal.
Karena bidang politik pada masa lalu selalu dikaitkan dengan Negara, maka muncul konsep civil society sebagai arena bagi warga Negara yang aktif dalam politik. Tetapi lebih luas lagi konsep ini sering juga dikaitkan dengan peradaban masyarakat, yaitu suatu kualitas kebudayaan masyarakat yang ditandai oleh supremasi hukum.
Masyarakat Beradab Ketenangan, kenyamanan, ketentraman, dan kedamaian sebagai makna hakiki manusia beradab. Konsep masyarakat adab dalam pengertian lain adalah suatu kombinasi yang ideal antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum.


Problematika Peradaban
        
     Arus informasi yang berkembang cepat menumbuhkan cakrawala pandangan manusia makin terbuka luas. Teknologi yang sebenarnya merupakan alat bentu/ekstensi kemampuan diri manusia, dewasa ini telah menjadi sebuah kekuatan otonom yang justru ‘membelenggu’ perilaku dan gaya hidup kita sendiri. Dengan daya pengaruhnya yang sangat besar, karena ditopang pula oleh system-sistem sosial yang kuat, dan dalam kecepatan yang makin tinggi, teknologi telah menjadi pengarah hidup manusia. Masyarakat yang rendah kemampuan teknologinya cenderung tergantung dan hanya mampu bereaksi terhadap dampak yang ditimbulkan oleh kecanggihan teknologi.
Dampak Globalisasi Terhadap Peradaban Manusia Akibat globalisasi diantaranya masyarakat mengalami anomi/ tidak punya norma atau heteronomy/ banyak norma, sehingga terjadi kompromisme sosial terhadap hal-hal yang sebelumnya dianggap melanngar norma tunggal masyarakat.
Selain itu juga terjadinya disorientasi atau alienasi, keterasingan pada diri sendiri atau pada perilaku sendiri, akibat pertemuan budaya-budaya yang tidak sepenuhnya terintegrasi dalam kepribadian kita.
7:04 PM   Posted by My Science in with No comments
Read More

Search